JAKARTA - Sidang dengan agenda pembacaan pledoi (pembelaan) terdakwa kasus korupsi e-KTP kembali dilanjutkan. Sempat diskors selama kurang lebih selama 75 menit, hakim Yanti kembali membuka sidang.

"Skors saya cabut, sidang pembacaan pledoi kembali dilanjutkan," kata hakim Yanto saat mencabut skors sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jum'at (13/4/2018).

Sebelumnya, pembacaan pledoi pribadi telah dibacakan langsung oleh terdakwa Setya Novanto. Dalam pledoinya, Novanto meminta majelis hakim untuk kembali mempertimbangkan hukuman yang dilayangkan kepada dirinya oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Selain itu, Novanto juga menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari awal berjuang dari bawah hingga akhirnya menjadi ketua DPR RI.

"Izinkan saya menyampaikan tanggapan yang sangat penting dihadapan majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU)," lanjut Novanto. "Saya tidak pernah melakukan intervensi terhadap penganggaran e-KTP pada tahun anggaran 2011-2012 untuk menguntungkan diri saya sendiri," begitu isi pembelaan pribadi yang dibacakannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Setya Novanto 16 tahun penjara. Firman Wijaya selaku kuasa hukum terdakwa kasus korupsi e-KTP, Setya Novanto mengaku kliennya terkejut dengan tuntutan selama itu. Namun dirinya juga menilai jika Novanto menerima dengan lapang dada.

"Kan beliau sudah menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh masyarakat Indonesia, tentu dengan sikap beliau itu tadi ya beliau berusaha untuk menghormati proses ini dan tadi juga tidak ada reaksi dari beliau yang menggambarkan jika beliau marah. Tapi sungguh pun demikian, sebagai manusia biasa beliau mungkin lapang dada dan berusaha untuk menerimanya," kata Firman, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (29/3/2018).