BREAKINGNEWS.CO.ID - Tim Satuan Tugas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya telah menangkap empat orang terkait skandal pengaturan skor dan mafia bola. Tiga orang ditangkap pada Kamis (27/12) yakni anggota Komite Eksekutif (Exco) dan Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng, eks anggota Komisi Wasit PSSI Priyanto, wasit futsal Anik Yuni Artika

Teranyar, Satgas Antimafia mencocok Dwi Riyanto alias Mbah Putih di Hotel New Saphire Yogyakarta, Jumat (28/12/2018) pukul 10.00 WIB. Mbah Putih sendiri merupakan anggota nonaktif Komisi Disiplin PSSI yang diduga mengatur jalannya pertandingan Liga 3 Persibara Banjarnegara. Ironis memang, orang-orang di atas seharusnya sebagai garda terdepan dalam pembangunan sepak bola Indonesia. Akan tetapi, uang telah menggelapkan mata hati. Nurani sirna demi kepuasan pribadi, tak peduli ratusan juta manusia bermimpi melihat sepak bola negaranya maju.

Situasi ini ternyata menyeret perhatian dari Mantan pendiri dan ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Indonesia (APSI) dan manajer tim Persijatim, Ronny Tanuwijaya. Dia tak kaget dengan skandal yang kini menjadi halaman depan sepak bola Indonesia. Baginya, kasus ini sudah mendarah daging karena sudah lama terjadi. Hanya saja, borok itu baru terbongkar belakangan ini.

"Sejak saya memegang tim sepak bola (2000-an) memang sudah ada. Tapi, penanaganannya hanya fokus internal PSSI saja. Kalau sekarang kepolisian sudah terlibat. Kalau saya sih nggak kaget karena hampir 25 tahun ada sudah ada itu," kata Ronny kepada Breakingnews.co.id, Sabtu (29/12/2018).

Ronny menuturkan, ketika dirinya berkecimpung di dunia sepak bola, sejatinya PSSI telah melakukan tindakan untuk menghukum para pelaku match fixing. Hanya saja, hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera. "Kalau dulu hanya ditindak oleh PSSI saja. Paling skorsing hukumannya. Terus, dulu itu yang dikambing hitamkan wasit padahal wasit itu melakukan hal yang tidak terpuji pasti ada dorongan dari pihak-pihak tertentu," tegas Ronny.

Ronny mengungkapkan, ke depannya, ia meyakini jumlah tersangka dalam kasus match fixing akan terus bertambah. Bahkan, ia tak memungkiri bahwa orang-orang yang sangat memiliki peran penting di PSSI akan terlibat. Oleh karenanya, Ronny mendesak supaya jajaran PSSI dirombak total. "Kalau bisa kepengurusan PSSI harus dirombak total. Exco-exconya juga harus dirombak. Cari orang baru saja, mending cari orang bodoh daripada cari orang pintar. Kalau orang bodoh bisa diajari, yang penting harus punya idealis bukan hanya untuk mencari nafkah di sepak bola," pungkas Ronny.

Lebih lanjut, sosok yang juga pernah menjabata sebagai manajer Persebaya itu menyoroti ketiadaan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi. Ia menyangkan, Edy yang merangkap jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara. "Ya bagaimana kalau ketuanya dari jarak jauh. Ketua Umum PSSI seharusnya ada di Jakarta, intinya itu saja. Pekerjaan PSSI ini kan bukan yang gampang dikerjakan," pungkasnya.