BREAKINGNEWS.CO.ID - Perusahaan Amerika yang melacak aktivitas online organisasi supremasi dan jihadis kulit putih, SITE Intelligence Group menuturkan, kelompok Negara Islam atau ISIS sudah mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri di gereja Katedral di sebuah pulau di Filipina Selatan.

Serangan bom itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 17 orang. Sementara 56 orang lainnya terluka atas peristiwa itu. Dikutip dari AFP, Senin (28/1/2019), ISIS mengeluarkan pernyataan resmi yang mengklaim bahwa dua pelaku bom bunuh diri merupakan bagian dari kelompoknya.

Pelaku meledakkan sabuk peledak pada Minggu (27/1) lalu di dalam gereja dan tempat parkir mobil di Jolo, Mindanao. Sementara dikutip dari Reuters, serangan bom bunuh diri itu telah menewaskan 20 orang dan melukai 81 orang lainnya. Kawasan pulau Mindanao mayoritas berpenduduk Muslim.

Serangan ini merupakan salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di wilayah yang sejak lama dilanda bergejolak tersebut. Pulau ini juga menjadi basis kelompok Islam garis keras Abu Sayyaf. Sebelumnya militer Filipina mengatakan wilayah Mindanao merupakan basis militan Islam dan menyebut aksi pengeboman kali ini sebagai aksi terorisme. "Motifnya sudah pasti terorisme. Mereka adalah orang yang tidak menginginkan kedamaian. Yang menyedihkan, peristiwa ini terjadi tepat setelah undang-undang Bangsamoro sudah diratifikasi," ujar Letkol Gerry Besana seperti dilaporkan AFP.

Tewaskan 17 Orang

Sebanyak 17 orang orang dilaporkan tewas dan 56 orang lainnya luka-luka akibat dua ledakan bom di sebuah katedral di sebuah pulau di Filipina selatan. Ledakan pertama terjadi di dalam Katedral Jolo, Mindanao pada Minggu (27/1) pagi tepat saat misa pertama dilaksanakan. Ledakan susulan pun terjadi sesaat setelah para tentara merespons ledakan pertama.

Militer Filipina mengatakan wilayah tersebut merupakan basis militan Islam dan menyebut aksi pengeboman kali ini sebagai aksi terorisme. "Motifnya sudah pasti terorisme. Mereka adalah orang yang tidak menginginkan kedamaian. Yang menyedihkan, peristiwa ini terjadi tepat setelah undang-undang Bangsamoro sudah diratifikasi," ujar Letkol Gerry Besana seperti dilaporkan AFP.

Jolo terletak di wilayah otonom mayoritas Muslim Bangsamoro. Usulan ini telah disetujui pada saat pemilihan lokal minggu lalu. Pulau ini juga basis grup Islam militan Abu Sayyaf. Ia disalahkan atas serangan teror yang melanda Filipina. Pekan lalu para pemilih sepakat menerima wilayah otonom yang lebih kuat di Filipina selatan. Harapannya, keputusan ini akan membawa kedamaian dan pembangunan setelah bertahun-tahun perang yang telah menelan korban dan mengakibatkan kemiskinan. Di sisi lain, Provinsi Sulu yang masih masuk ke dalam area Jolo justru tidak menginginkan adanya wilayah baru. Pemerintah setempat mempertanyakan undang-undang yang menetapkan wilayah tersebut di hadapan Mahkamah Agung.