BREAKINGNEWS.CO.ID - Timnas Indonesia terbilang sangat miskin prestasi. Tak pernah juara lagi di ajang resmi sejak SEA Games tahun 1991 di Manila. Bahkan sejak Piala AFF digelar pada tahun 1996 hingga kini, timnas hanya mentok sebagai finalis. Itu pun beberapa tahun lalu.

Kini, meski segala upaya telah dilakukan, nyatanya prestasi itu tak melambung. Mulai dari program jangka pendek hingga program  sensasional macam naturalisasi pemain, sudah terbukti gagal. Sejak adanya naturalisasi tahun 2011 hingga kini, tak sempat timnas senior merebut gelar.

Sedikit berbeda dengan timnas junior. Pada era Evan Dimas masih ditangani Indra Sjafri, Indonesia pernah merajai kompetisi ASEAN U-19. Kemudian juara lagi di AFF U-16 saat timnas dilatih Fachry Husaini.

Sayang, setelah sukses di kelompok usia itu, di level senior, para pemain tersebut melempem. Susah untuk berprestasi. Bahkan penampilannya cenderung turun.

Evan Dimas bintang baru timnas Indonesia. 

Jika VO2max saat mereka masih muda yang rata-rata mencapai 60an, kini di senior paling banter hanya 50-an. Ini bukti jika tidak ada konsistensi yang dimiliki pemain dan juga pelatih dalam menjaga penampilan pemainnya.

Dari serangkaian program timnas saat merebut juara bisa dipetik pelajaran, jika timnas bisa berprestasi saat diperam dalam latihan jangka panjang. Bukan crash program latihan jangka pendek. Itu yang terjadi pada timnas senior di Piala Asia 2007, yang penampilannya menawan.

Sementara dalam Kualifikasi menuju even tertentu, persiapan jangka panjang susah dilakukan. FIFA atau AFC memang sengaja membuat jadwal di tengah kompetisi yang tengah melaju di sebuah negara. Kondisi tambah runyam lantaran babak Kualifikasi Piala Dunia 2022 juga digelar saat kompetisi berjalan.

Buah Simalakama

Ini menjadi buah simalakama tersendiri bagi PSSI. Ibarat jika timnas didahulukan maka kompetisi akan hancur, dan sponsor dirugikan karena jadwal yang harus terus berganti. Tak konsisten.

Namun saat kompetisi diutamakan dan timnas diberikan waktu mepet untuk berlatih, hasilnya sudah bisa ditebak. Timnas bakal kalah. Kondisi fisik para pemain yang buruk karena persiapan kurang jadi alasannya.

Membentuk timnas di saat kompetisi berjalan juga dilakukan oleh banyak negara. Bahkan kebanyakan klub dan timnas negara Eropa melakukannya. Ini bukti jika kompetisi dan timnas sebenarnya bisa saling bersinergi.

Hanya syarat mutlak agar hal itu berjalan adalah kondisi latihan di klub juga standar dengan model latihan timnas. Pemberian gizi pemain juga harus sesuai standar yang diperlukan. Bukan justru sebaliknya.

Eka Ramdani memperkuat timnas U-23 tahun 2007. 

Intinya standar latihan dan kondisi di klub harus ditingkatkan agar setara dengan yang dibutuhkan oleh timnas. Mulai dari konsep latihan, pemberian waktu istirahat dan nutrisi harus benar-benar diperhatikan. Ibaratnya membentuk klub bermain di kompetisi adalah juga membentuk timnas di sebuah negara.

Memanggil pemain untuk masuk atau bergabung ke timnas saat kompetisi jalan, seharusnya adalah keuntungan. Asalkan di klub pemain tersebut sudah terbiasa berada dalam kondisi puncak performanya. Bukan sebaliknya.

Kisah dari Argentina

Ingat, ada banyak keluhan dari pelatih jika pemain kembali ke rumah, mental dan kedisiplinan mereka menjaga performanya dinilai masih kurang. Ini dialami timnas U-23  saat dilatih Ivan Kolev menjelang SEA Games 2007. Eka Ramdani cs. Kala itu bahkan bisa menahan 0-0, timnas U-20 Argentina.

Usai latihan panjang di Negeri Tango, Kolev meminta timnas langsung berangkat ke SEA Games tanpa pulang ke Indonesia. Namun pengurus PSSI kala itu menolaknya karena menjelang Labaran. Bisa ditebak, sehabis pulang ke rumah masing-masing dan makan opor ayam lebaran, para pemain kondisinya anjlok, tak seperti saat berlatih di Argentina.

Ivan Kolev pelatih yang selalu memperhatikan kondisi fisik pemain. 

“Padahal Kolev saat itu sudah membuat program yang bagus. Semua berantakan karena saat main di SEA Games pemain kondisi fisiknya hancur, hanya gara-gara seminggu tidak latihan,” kata Karjono, mantan asisten manajer timnas U-23.

Inilah kesalahan klise yang dihadapi timnas dan para pemainnya. Pemahaman tentang pentingnya menjaga kondisi fisik kurang dipahami antara klub dan timnas. Padahal kalau di klub kondisi pemain dalam puncaknya, maka saat ditarik ke timnas, seharusnya juga sama.

Kalau sebaliknya yang terjadi, maka saat pemain gabung ke timnas, kondisi mereka sangat buruk karena timnas hanya menerima pemain yang sudah kelelahan akibat berkompetisi di klub.

Sinergi Klub dan Timnas

Sinergi antara pelatih klub dan pelatih timnas, mutlak diperlukan. Suatu klub tidak boleh dirugikan hanya karena pemainnya harus jauh-jauh hari dipanggil untuk gabung ke timnas. Klub yang tengah mengikuti kompetisi tentu rugi karena tak bisa menggunakan pemain terbaiknya saat kompetisi berjalan.

Win-win solution atau solusi saling menguntungkan harus keluar dari masalah klise yang dihadapi timnas ini. Tentunya timnas dan klub harus duduk satu meja memikirkan sebuah solusi agar pemain yang terpilih masuk ke timnas, kondisinya terus dijaga oleh klub. Maintenance terhadap kebugaran pemain, mutlak harus berawal di klub. Jika di klub kondisi mereka sudah siap, maka tak akan banyak permasalahan saat pemain datang ke timnas.

Komunikasi antara pelatih klub dan pelatih timnas, harus menjadi salah satu rujukan terpenting bagi manajemen timnas dalam menyusun strategi dan materi pemain di timnas. Bukan justru sebaliknya, klub dan timnas, saling memeras tenaga pemain hingga yang keluar dalam penampilan pemain di klub atau timnas, hanyalah ampas mereka. Tenaga dan kemampuan yang tinggal ampas inilah yang harus dihindari.

Intinya klub harus senantiasa menjaga pemainnya untuk siap bertarung dalam kondisi terbaik kapan pun. Sehingga jika pemain diperlukan tenaga di timnas, semua kemampuan terbaik itulah yang akan diberikan pemain timnas untuk menunjang penampilan mereka.