BREAKINGNEWS.CO.ID - Ole Gunnar Solskjaer kembali membawa Manchester United meraih kemenangan pada laga lanjutan Liga Inggris. Kali ini, korban The Red Devils adalah Leicester United. MU sukses menumbangkan The Foxes di King Power Stadium, Minggu (3/2/2019) lewat gol semata wayang Marcus Rashford.

Dengan raihan itu, MU tak terkalahkan di 10 laga selama dilatih Ole Gunnar Solskjaer. Satu-satunya noda dalam rekor tersebut adalah hasil imbang 2-2 dengan Burnley, namun selain itu Setan Merah mengemas poin tiga di era Solskjaer.

MU kini telah berhasil merangkak ke posisi kelima, menggeser Arsenal yang menelan kekalahan dari Manchesrer City 1-3. Namun nyatanya, raihan itu belum mampu membuat Solskjaer benar-benar ditunjuk sebagai pelatih permanen Manchester United.

Mantan kapten MU, Gary Neville, mengatakan manajer tetap baru berani dilakukan Manchester United, jika pelatih asal Norwegia itu berhasil menyingkirkan Paris Saint-Germain pada babak 16 besar Liga Champions dalam dua kali pertemuan, periode Maret 2019.

"Saya pikir masih terlalu dini untuk menunjuk Solskjaer. Jika Anda bilang kepada saya ketika ia mendapat pekerjaan berapa persentase peluangnya jadi pelatih permanen, saya mungkin akan mengatakan 25 persen," kata Neville, yang melakoni lebuh dari 600 penampilan untuk United, kepada SKy Sports.

"Ia memiliki catatan luar biasa. Ia memiliki persentasenya jauh lebih besar sekarang. Mungkin 50, 60 persen, tapi masih ada laga tandang Chelsea di Piala FA, PSG di Liga Champions, Liverpool. Ada tantangan besar dalam lima, enam pekan ke depan dan saya pikir di akhir Maret, awal April adalah waktu yang tepat untuk menilai kinerja yang telah dilakukan Ole,"tambahnya.

Pertarungan melawan raksasa baru di Eropa, Paris Saint-Germain, dalam 16 besar Liga Champions bisa sangat berbeda dengan Liga Primer Inggris karena berlangsung dalam sistem knock-out. Kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal buat pasukan Ole Gunnar Solskjaer.

Tapi, jasa Solskjaer dalam membangun kembali suasana kondusif di Manchester United, baik di kalangan pemain, ofisial, dan direksi, setelah begitu terpuruk di bawah rezim Mourinho, mesti dicatat dan diapresiasi, dengan atau tanpa tiket ke perempat final Liga Champions.