JAKARTA - Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) menggenapkan usianya yang ke-50, Minggu (10/6/2018). Pada perjalanannya, IFI yang memiliki nama IKAFI awalnya, diprakarsai oleh Albert Siahaan MNZSP.  Organisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan profesi Fisioloterapi kepada masyarakat luas. Menurut sejarahnya, pelayanan fisioterapi secara formal sudah ada sejak 1950-an. Ketika itu, Fisioterapi digunakan oleh Dokter bedah orthopedi Indonesia, Dr. Soeharso untuk membantu korban agresi militer Belanda kedua 1948.

Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia 2016-2021, Mohammad Ali Imron, mengatakan, pada perkembangannya, fisioterapi, hampir ada di seluruh pelayanan. "Baik di rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga klub-klub olahraga di Indonesia. Mengingat, semakin banyaknya kasus-kasus kesehatan terkait gerakan fungsi,"kata Ali Imron kepada wartawan. 
 
Ali Imron menambahkan, tindakan fisioterapi juga telah dirasakan oleh penyandang kebutuhan khusus seperti cacat, untuk anak-anak seperti delay development, hingga anak-anak gangguan prilaku.   "Selain itu, fisioterapi juga telah masuk ke dalam program pemerintah yaitu layanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) di rumah sakit yang ada di Indonesia. Ditambah, klinik-klinik yang sudah hampir tersebar luas di daerah ibu kota," ucap Ali Imron.
 
Karena, lanjut Ali Imron, profesi fisioterapi secara undang-undang bisa melakukan praktek mandiri. "Jadi, seorang fisioterapi bisa memiliki surat izin praktek sebagaimana seorang dokter," ungakapnya.
 
Lebih lanjut, dikatakan Ali Imron, pada 1996 IFI sudah diakui dunia karena telah menjadi anggota Word Confederation for Physiotherapy. "Sejak saat itu setiap even internasional IFI berkesempatan menjadi narasumber. Bahkan, khusus untuk wilayah Asia Pasifik IFI telah dua kali menjadi pemimpin yaitu pada 1995 dan 2010," pungkasnya.