BREAKINGNEWS.CO.ID -Atmosfir menjelang musyawarah nasional (munas) Partai Golkar semakin memanas. Menuju munas 4-5 Desember 2019 di Jakarta, Airlangga Hartarto diyakini masih berada di atas angin. Dukungan yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo semakin menguatkan posisi Airlangga untuk mempertahankan jababatannya.

Ironisnya, walau sudah ramai disebut-sebut sebagai calon pesaing Airlangga, Bambang Soesatyo belum resmi menyatakan kesiapannnya untuk maju sebagai penantang Airlangga. Bamsoet, begitu Ketua MPR biasa disapa, belum tegas menyatakan dia akan maju ke perebutan kursi ketua umum Golkar periode 2019-2024.

Menurut Maman Abdurahman, wakil sekjen Partai Golkar, secara aturan memang tidak ada dalam Ad/ART larangan bagi kader partai yang menjabat ketua MPR untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum Partai Golkar. Maman Abdurahman justru mengingatkan bahwa dalam beberapa kesempatan Bamsoet sudah menyatakan dan mendukung Airlangga. Bahkan, Bamsoet juga berulangkali mengatakan sudah tidak ada lagi persaingan antara dirinya dan Airlangga.

Dalam konteks persaingan, asumsi publik tentunya langsung mengarah pada persaingan memperebutkan kursi ketua umum Partai Golkar. Jadi, jika Bamsoet bicara terkait sudah tidak ada lagi persaingan antara dia dan Airlangga, yang dimaksudkannya tentu persaingan di munas Golkar.
"Nalar masyarakat atau publik pasti sulit memahami dan menerima kenyataan kalau sekarang ini tiba-tiba Bamsoet maju," kata Maman Abdurahman, mengingatkan.

Kalau benar-benar maju, maka Bamsoet sudah mengingkari pernyataannya mempertahankan soliditas partai. “Walaupun sampai sekarang belum ada statement resmi dari Bambang Soesatyo yang menyatakan dengan tegas bahwa dia akan maju, tetapi apabila nanti beliau menyatakan diri maju maka sudah jadi seperti Syahrini dengan Ikon Maju mundur cantik dong,” kata Maman dalam keterangan tertulisnya.
Maman melihat ini bagian dari inkonsistensi Bamsoet terhadap janji sebelumnya. "Yah kalau Mas Bamsoet maju tentunya akan jadi pesaingnya Syahrini. Jangan sampai nanti Syahrini ikut mendaftar juga di munas Golkar, bisa pada joget Maju Mundur Cantik dong semuanya," seloroh Maman Abdurahman.

Wakil Sekjen Partai Golkar ini kemudian mengharapkan semua kader partai bersama-sama menjaga soliditas dan kebersamaan di internal Partai Golkar. Maman Abdurahman menegaskan, musyawarah mufakat adalah solusi terbaik didalam menghadapi tantangan kekinian bangsa.
"Sama seperti pada saat kita memperjuangkan Mas Bamsoet menjadi pimpinan tertinggi di MPR. Mas Bamsoet dipilih menjadi ketua MPR juga dengan musyawarah mufakat," ungkap Maman Abruahman.

Terkait pujian Presiden Jokowo kepada Airlangga Hartarto, Maman Abdurahman menyatakan bahwa pujian yang disampaikan oleh Presiden kepada Airlangga adalah sebuah keniscayaam yang tak bisa dipungkiri.

Dia juga mengingatkan perihal dukungan serta keberadaan Airlangga Hartarto dari kemenangan Jokowi di Pilpres baru lalu. "Dukungan yang diberikan Pak Airlangga Hartarto sangat luar biasa. Wajar kalau sekarang Pak Jokowi memberikan kepercayaan kepada Pak Airlangga Hartarto sebagai Menko Perekonomian," jelas Maman Abdurahman.

Lebih jauh Maman Abdurahman menegaskan, Jokowi tidak melarang Airlangga rangkap jabatan sebagai menteri dan ketua umum partai. Ini merupakan sinyal kepada Airlangga Hartarto untuk bertahan sebagai ketua umum Partai Golkar.

Maman Abdurahman melihat semakin strategisnya posisi Airlangga Hartarto di mata Jokowi sekarang ini. "Pak Jokowi memandang akan semakin sinergisnya posisi Pak Airlangga Hartarto sebagai Kemenko Perekonomian dan sebagai ketua umum partai, agar posisi politik beliau semakin kuat. Membangun komunikasi poklitik dengan Parlemen juga menjadi lebih baik," terangnya.

Disinggung tentang kelebihan-kelebihan Airlangga Hartarto sehingga layak dipertahankan sebagai ketua umum Partai Golkar, Maman Abdurahman menyebut, karena Airlangga Hartarto memiliki karakter yang tenang, santun, penuh dengan pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan. Ketegasan dan ketenangan Airlangga Hartarto itulah yang bisa mengantarkan stabilisasi internal Partai Golkar.
"Bukan gaya kepemimpinan Maju Mundur Cantik," Maman Abdurahman mengakhiri keterangannya dengan kembali menyitir lagi "Maju Mundur Cantik"-nya Syahrini.