Yogyakarta – Ada beberapa ribu orang Jawa yang dibawa pemerintah Hindia Belanda mulai sejak awal th. 1900-an ke Suriname, negara jajahan Belanda di Amerika Latin. Mereka jadikan tenaga kerja di perkebunan-perkebunan punya Belanda.

Mereka dibawa paksa oleh tentara Belanda dari bebrapa lokasi di tanah Jawa seperti magelang, Prembun serta Kutawinangun Kebumen, Gumelem Banyumas, Purbalingga, Blitar, Sidoarjo serta Mojokerto Jawa Timur. Ada yang segera dicomot dari pasar-pasar atau tempat keramaian di beberapa daerah itu hingga tak pernah pamitan keluarga dirumah. Tetapi ada juga yang pernah berpamitan.

Mereka diberangkatkan memakai kapal laut melalut Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia, Tanjung Mas Semarang serta Tanjung Perak surabaya. Mereka datang bergelombang memakai kapal menuju Paramaribo, Suriname. Perjalanan mengarangi samudera kian lebih tiga bln. lamanya.

Orang Jawa di Suriname sudah tumbuh beranak-pinak. Generasi awal orang Jawa yang datang ke Suriname dahulu masihlah merindukan untuk pulang ke tanah Jawa. Tetapi generasi selanjutnya yang lahir di Suriname telah tak akan merindukan untuk kembali pulang. Beberapa nama Jawa serta kebiasaan budaya Jawa seperti selamatan, seni tari serta seni kuda lumping masihlah terpelihara hingga saat ini.

Walau telah lahir di Suriname, tinggal di Suriname ataupun Belanda, kerinduan bakal tanah leluhur di Pulau Jawa untuk mereka masihlah ada. Bhs Jawa ngoko masihlah dipakai beberapa diaspora Jawa di manapun tempat ada.

Beberapa orang keturunan Jawa di Suriname serta Belanda banyak datang ke tanah Jawa, maksudya tidak lain untuk mencari keluarga atau alur trah keluarga yang masihlah tersisa di Jawa. Ada yang dapat ketemu dengan sebagian anggota keluarga serta masihlah ada narasi mengenai saat lantas. Tetapi ada juga yang telah tak ketemu saat mendatangi daerah sebagai tempat leluhurnya.

Seperti Jakiem Asmowidjoyo (66) , warga kelahiran Suriname 1951 yang sekarang ini tinggal di Belanda. Diakuinya telah lima kali mencari keluarganya di tanah Jawa. Menurut narasi, buyut dari kakek datang dari Nganjuk, sesaat buyut dari nenek datang dari Mojokerto. Namun telah berulang-kali dia mencari, keluarganya di tanah Jawa tidak kunjung ketemu.

” Saya wes pernah ndek Nganjuk, namun ngggoleki desone ora ketemu, gerbang desone wae wes tidak ono (Saya telah pernah ke Nganjuk, namun mencari desanya tak ketemu, gerbang desanya saja telah tak ada) , ” tutur pria yang saat ini berkewarganegaraan Belanda ini.

Menurutnya, kakek buyut dibawa ke Suriname th. 1898 atau generasi awal orang Jawa tiba di Suriname. Dia juga mencari dengan mencari keluarga buyut dari nenek di Mojokerto, sesampainya disana dia juga tak merasakan keluarga buyutnya. Tetapi dia tidak patah arang, berdasar pada info yang didapat masihlah ada keluarganya yang tinggal di Blitar. Sesudahnya dia coba mencari ke Blitar, namun usahanya kembali tidak membawa hasil.

” Sak iki keluargaku ndek Jowo wes ora ketemu, namun sak iki wong-wong ndek perkumpulan dadi dulurku kabeh (Saat ini keluargaku di Tanah Jawa telah tak ketemu, namun saat ini beberapa orang di perkumpulan semua jadi saudaraku) , ” tutur pria yang juga Koordinator Group Jawa Suriname ndek Londo (di Belanda-red) ini.

Walau telah tak menjumpai keluarganya di Jawa, Jakiem mengakui setiap saat menginjakan laki di Jawa telah seperti pulang di tempat tinggalnya sendiri. Karenanya, dia tak henti-hentinya mencari info histori tanah Jawa, baik lewat literatur ataupun datang segera ke Jawa.

” Yo ibarate ngumpulke balung pisahlah (ya ibaratnya menyatukan saudara yang terpisah) , ” pungkas Jakiem selesai bertandang di Desa Gilangharjo, Bantul.

BREAKINGNEWS.CO.ID