BREAKINGNEWS.CO.ID - Skandal pengaturan skor sepak bola Indonesia telah memasuki babak baru. Empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas Anti Mafia Bola. Keempat tersangka adalah Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah Johar Lin Eng, Dwi Irianto (Mbah Putih) anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Priyanto mantan anggota Komite Wasit PSSI, dan Anik Yuni Artikasari yang merupakan putri Priyanto.

Kasus ini, bagi Mantan pendiri dan ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Indonesia (APSI) dan manajer tim Persijatim, Ronny Tanuwijaya, menjadi salah satu penyebab sepak bola Indonesia tidak pernah mengukir prestasi. Ronny mengakui, isu pengaturan skor memang sudah ada sejak 25 tahun yang lalu, ketika dirinya masih aktif di dunia si kulit bundar.

"Kalau saya sih nggak kaget karena hampir 25 tahun ada sudah ada itu. Sejak saya memegang tim sepak bola memang sudah ada hanya saja penanaganannya hanya fokus internal PSSI saja. Kalau sekarang kepolisian sudah terlibat," kata Ronny Tanuwijaya kepada Breakingnews.co.id, Senin (31/12/2018).

Ronny Tanuwijaya menilai, sarang terjadinya pengaturan skor paling berada di Liga 2, dan Liga 3. Sebab, kedua kasta tersebut masih jarang mendapatkan perhatian dari masyarakat luas. Bagaimana sepak bola kita bisa maju kalau di Liga 2, Liga 3, sudah dinodai dengan match fixing. Karena itu kan masih usia dini. Gimana itu masih muda sudah diracuni. Masalahnya liga 2, liga 3 tidak terlalu banyak disorot masyarakat. Liga 1 saja yang banyak sorotan. Tapi putaran uangnya banyak, karena masih pakai dana APBD," tegas Ronny Tanuwijaya, yang akrab disapa Rotan.

Ronny Tanuwijaya (Foto: Dok.istimewa)

PSSI Dirombak Saja

Rotan mengungkapkan, ke depannya, ia meyakini jumlah tersangka dalam kasus match fixing akan terus bertambah. Bahkan, ia tak memungkiri bahwa orang-orang yang sangat memiliki peran penting di PSSI akan terlibat. Oleh karenanya, Ronny mendesak supaya jajaran PSSI dirombak total. "Kalau bisa kepengurusan PSSI harus dirombak total. Exco-exconya juga harus dirombak. Cari orang baru saja, mending cari orang bodoh daripada cari orang pintar. Kalau orang bodoh bisa diajari, yang penting harus punya idealis bukan hanya untuk mencari nafkah di sepak bola," jelas  Rotan.

Lebih lanjut, sosok yang juga pernah menjabat sebagai manajer Persebaya itu menyoroti ketiadaan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi. Ia menyangkan, Edy yang merangkap jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara. "Ya bagaimana kalau ketuanya dari jarak jauh. Ketua Umum PSSI seharusnya ada di Jakarta, intinya itu saja. Pekerjaan PSSI ini kan bukan yang gampang dikerjakan," pungkasnya.