BREAKINGNEWS.CO.ID - Shin Tae Yong, pelatih tim nasional baru, sudah mulai bekerja. Pelatih asal Korsel ini ditarget untuk bisa membawa tim Garuda menang sebuah turnamen mini yang sebenarnya gak terdaftar sebagai agenda resmi kejuaraan FIFA, yakni Piala AFF. Bagi pelatih yang pernah membawa timnas Korsel lolos ke babak kedua Piala Dunia 2018 di Rusia, tentu target itu tak sepadan. Bahkan terlalu kecil baginya. Bisa jadi, tak akan menaikkan pamornya dan sekedar jadi catatan kecil dalam curriculum viate-nya. Shin pernah tampil dalam partai besar. Ia membawa Korsel menang atas raksasa sekaligus juara bertahan Jerman di Piala Dunia 2018.

Namun Shin, yang saat fit and proper test yakin bisa memenuhi targetnya itu, mungkin saat ini mulai bimbang. Ia mulai ragu setelah hari-hari pertama menangani para pemain terbaik di Indonesia yang ia kumpulkan dalam pelatnas. Bahkan saat uji coba, mereka kalah 1-4 dari Persita. Ah... pertandingan ini gak seharusnya dihitung. Hanya sebuah uji coba saja kok buat ngukur hasil latihan.

Namun dari kekalahan itu, pastilah bisa dipetik kalau startegi yang dimaui oleh Shin Tae Yong, tak berjalan mulus. Mungkin pemain gak paham maksud dan jalan pikiran pelatih baru. Namun inilah yang mungkin membuat Shin Tae Yong membumi. Kenapa? Shin mungkin baru sadar, bahwa mutu pemain yang harus ia tangani jelek, jika tak mau dikatakan sangat buruk.

Lha gimana, soal urusan umpan-mengumpan saja, para pemain yang katanya terbaik di Indonesia itu, masih sering kali salah. Kesalahan elementer itu padahal tak seharusnya terjadi di tingkat pemain timnas, atau pemain terbaik yang harus diadu pada level internasional.

Nah, jika kemampuan mendasar seperti salah umpan saja mereka salah, gak bener dan membuat pelatih asal Korsel itu jadi lesu.   Shin Tae Yong sekali lagi, mungkin baru nyadar. Ia harus realistis, jika para pemain yang dimilikinya jauh dari kata ideal, untuk bertarung menjadi yang terbaik sekali pun di level terendah, regional Asia Tenggara.

Itu hanya satu elemen saja, yakni soal mengumpan. Masih ada elemen-elemen penting lain soal menendang, menyundul, belum lagi soal tak tik dan strategi. bahkan soal fisik dan stamina pemain yang selama ini dianggap penting dan jadi unggulan dalam filosofi olahraga dan sepak bola bagi orang Korsel.

Seorang kawan pernah memberikan alasan atas kekalahan timnas di beberapa even atau turnamen atau pertandingan internasonal. "Timnas itu hanya kalah dua hal, teknik dan fisik (stamina), dua hal itu saja, gak lebih," kata teman tadi.

Orang yang mendengarnya mungkin tertawa, karena dua hal itu boleh dibilang adalah yang terpenting dalam sepak bola. Bahkan mungkin mencapai 90 persen dari modal untuk memenangkan pertandingan. Selain dua hal itu mungkin masih ditambah lagi faktor-faktor nonteknis lainnya. Namun fisik dan teknik adalah yang utama kalau main bola untuk menang dan bener.

Nah, ini timnas Indonesia dua hal itu saja gak ada atau minimal  gak bener, lalu mau apa lagi? Berharap faktor non teknis untuk bisa menang, misalnya lewat suap atau suporter yang ngamuk untuk menekan lawan? Rasanya itu gak mungkin. Di sepak bola yang makin modern dengan segala aturan yang ketat, faktor non teknis sekarang susah untuk diandalkan.

Jadi kalau memang timnas mau juara atau menang dalam suatu pertandingan, ya harus bisa menang secara teknik dan fisik. Harus bisa berlari lebh cepat, lebih lama dan lebih kuat dari lawannya. Harus lebih pintar mengolah bola, menendang bola, mengumpan bola dan memainkan tak tik serta stategi. Kalau gak, ya berarti menangnya cuma untung-untungan, alias kebetulan semata.

Kembali pada Shin Tae Yong, pelatih asal Korsel yang baru nyadar kalau kondisi sepak bola Indonesia memang saat ini sangat buruk dan jauh tertinggal dari negara lain. Ia dihadapkan pada tugas besar. Tugas yang mungkin tak bisa dituntaskan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Bahkan  mungkin perlu belasan dan puluhan tahun. Maklum saat ini sepak bola Indonesia sudah tertinggal dari negara tetangga yang dulu seharusnya kita kangkangi setiap main di level Asia.

Sekarang kondisinya sudah berbeda, sudah tak seperti dulu lagi. Usaha Shin Tae Yong untuk memenuhi targetnya  bakal sangat susah, mungkin juga mustahil. Tapi untuk menjilat ludah atau merevisi target rasanya tak mungkin. Semua pengurus PSSI bahkan suporter dan masyrakat sepak bola Indonesia sudah kebelet timnas Garuda untuk bisa jadi juara, walau hanya di level internasional yang paling kecil seperti AFF.

Bagi masyarakat negeri gila bola yang tak sadar pada kemampuan sepak bolanya sendiri itu, mereka lebih senang bermimpi dan mencari sensasi juara dibandingkan membangun fondasi sepak bola yang benar. Sensasi juara rasanya akan menghapus buruknya pembinaan sepak bola di Indonesia, dalam 50 tahun terakhir. Juara bahkan bisa membedakan prestasi sebuah kepengurusan dibandingkan pengurus-pengurus sebelumnya.

Namun mereka tak sadar, kalau cuma bisa juara di level AFF sudah bangga, maka sepak bola negeri ini memang gak bakal bisa maju. Terbukti cita-cita yang sangat kecil itu saja sulit dicapai, apalagi mau bermimpi prestasi besar seperti lolos ke Piala Dunia.