BREAKINGNEWS.CO.ID- Faktor   kekhawatiran terhadap perang dagang yang kembali mengemuka dianggap sebagai salah penyebabnya terjadinya pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa (27/11/2018). Hari ini, nilai tukar mata uang garuda  yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  ini melemah sebesar 38 poin menjadi Rp14.509 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.471 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa mengatakan bahwa dolar AS mengalami penguatan terhadap sejumlah mata uang dunia seiring kekhawatiran pasar mengenai perang dagang kembali muncul. "Pasar terbebaninya risiko global karena harapan kesepakatan perang dagang Amerika Serikat dan Cina diperkirakan belum akan terjadi dalam waktu dekat," katanya.

Ia mengemukakan Presiden AS Donald Trump menyatakan tetap mengenakan tarif 200 miliar dolar AS pada impor Cina menjadi 25 persen dari saat ini 10 persen.

"Di tengah situasi itu diperkirakan permintaan dolar AS akan meningkat karena kekhawatiran eksternal itu," katanya.

Sedangkan pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova menambahkan fokus pasar cenderung beralih ke eksternal meski situasi di dalam negeri cukup kondusif. "Sentimen di pasar yang bervariasi, terutama dari eksternal membuat laju rupiah tertahan," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (27/11), tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp14.504 dibanding sebelumnya (26/11) di posisi Rp14.551 per dolar AS.

Rupiah Undervalued

Sementara dari tempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memandang nilai tukar rupiah masih "undervalue" atau terlalu murah dibandingkan dolar AS, meski dalam beberapa pekan terakhir mata uang Garuda menunjukkan tren penguatan.  "Alhamdulillah menguat, meski kami pandang posisi sekarang masih 'undervalue'," kata Perry.

Perry mengatakan otoritas moneter pada 2019 akan tetap mendorong pergerakkan rupiah sesuai harga yang dibentuk oleh mekanisme pasar. Namun, Bank Sentral tidak akan mengurangi peran intervensi, ketika tekanan kurs semakin kencang. "Kecukupan likuiditas akan terus kami jaga. Kebijakan stabilisasi moneter diperkuat dengan askselarasi pendalaman pasar uang di 2018. Pasar valas kami telah tempuh dengan kebijakan swap (barter) valas yang lebih efisien," ujar Perry.