BREAKINGNEWS.CO.ID – Faktor eksternal berupa sentiment global kembali menekan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS.  Pada penutupan perdagangan Senin (18/11/2019), mata uang garuda melemah tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp14.079 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.077 per dolar AS.

Dalam pandangan Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, pasar masih memantau  apakah Amerika Serikat dan China dapat segera menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang yang tengah berlangsung. "Pelaku pasar menunggu indikasi baru tentang apakah AS dan China bergerak lebih dekat ke kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang mereka yang telah mengguncang pasar keuangan dan menjadi hambatan bagi pertumbuhan global," ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (18/11).

Dari eksternal lainnya, pasar juga terus mengawasi perkembangan di Hong Kong, dimana polisi menjebak ratusan pengunjuk rasa di dalam sebuah universitas besar, menutup jalan di daerah itu setelah hampir dua hari berturut-turut terjadi pertikaian yang telah menimbulkan kekhawatiran akan pertikaian berdarah dengan kedua belah pihak menolak untuk mundur.

Antaranews.com mencatat dari kondisi domestik, neraca perdagangan Indonesia yang diluar dugaan membukukan surplus pada Oktober juga memengaruhi pergerakan rupiah hari ini.

Pasar juga tengah menanti Bank Indonesia (BI) yang akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada tanggal 20-21 November 2019 mendatang.

 

Bank sentral diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya di 5 persen. Sepanjang tahun ini BI sudah memangkas 100 basis poin suku bunganya.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat Rp14.070 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.070 per dolar AS hingga Rp14.082 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.075 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.069 per dolar AS.