BREAKINGNEWS.CO.ID - Harga saham di Bursa Efek Indonesia kemungkinan melanjutkan pelemahan  yang terjadi pada akhir perdagangan sehari sebelumnya. Analis memperkirakan, sentiment global dan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 yang tak sesuai target menjadi pemicu utama pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan.

Dalam pandangan analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan IHSG secara teknikal mengindikasikan tren pelemahan. "Tekanan dari sentimen global diperkirakan masih akan terasa," kata Dennies dikutip dari risetnya, Selasa (6/8/2019).

Sentimen negatif global adalah rencana Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif tambahan 10 persen terhadap impor barang asal China senilai $300 miliar mulai 1 September mendatang. Kebijakan ini membuat ekuitas China, terbakar.

Di sisi lain, kerusuhan di Hongkong yang dipicu rencana pemerintah membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi makin memanas. Ini membuat Hangseng melemah. Dua kejadian itu memicu koreksi pada mayoritas saham Asia, termasuk Indonesia. "Hal ini menjadi sorotan bagi Hangseng dan bursa China sendiri," tuturnya.

Dari domestik, indeks bakal dipengaruhi hasil pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen. Angka ini turun dari kuartal sebelumnya 5,07 persen.

Dennies memprediksi IHSG akan bergerak di rentang support 6.083-6.130 dan resistance 6.269-6.361

Sementara itu, Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi memprediksi IHSG bisa balik arah (rebound) menguat. "Potensi teknikal rebound terbuka cukup lebar melihat pada pola pelemahan sebelumnya," katanya.

Ia memperkirakan IHSG bergerak di level support 6.100 dan resistance 6.245.

Untuk diketahui, IHSG merosot tajam pada penutupan perdagangan Senin (5/8). Indeks ditutup di level 6.175 turun 164,47 poin atau 2,59 persen. Investor asing tercatat jual bersih (net sell) di seluruh pasar sebesar Rp1,1 triliun.