BREAKINGNEWS.CO.ID -Kisah hidup Nadia Murad selaku penyintas konflik berdarah di kawasan Timur Tengah pasca kehadiran ISIS, membuka mata dunia bahwa kelompok bersenjata yang membawa nama agama itu tak lebih dari sekelompok teroris tak punya rasa kemanusiaan. Perempuan etnis Yazidi ini menjadi satu dari sekian banyak warga sukunya yang selamat dari laku perkosaan, perbudakan serta pembunuhan oleh kelompok yang sempat menguasai sebagian besar wilayah negara Irak itu.

Nadia  berhasil lolos dari sekapan setelah selama tiga tahun  tiada hari yang tidak dilalunya tanpa rasa takut dan bayang-bayang perkosaan dari anggota kelompok pengusung khilafah  Islamiah itu. Ketakutan menjadi cerita sehari-hari, karena etnis Yazidi menjadi salah satu kelompok masyarakat Timur Tengah yang paling menderita sejak konflik itu muncul.

Nadia bersama Dokter Denis Mukwege asal Kongo diumumkan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2018 pada Jumat (5/10/2018) berkat upaya-upaya mereka menghentikan penggunaan kekerasan seksual sebagai senjata dalam perang.

Nadia diculik ISIS pada 2014, saat usianya masih 19 tahun. Kala itu, milisi ISIS sedang menyerang Distrik Sinjar, Irak, kampung halaman Nadia. Milisi ISIS membantai seluruh anggota keluarganya, sedangkan perempuan itu dibawa ke Mosul.

Nadia dijadikan sebagai budak seks selama tiga bulan dan diperjualbelikan beberapa kali sebelum berhasil meloloskan diri. Setelah lolos dan keluar dari Mosul, Irak, ia bertemu dengan wartawan BBC Nafiseh Kohnavard.

Wartawan BBC mengatakan bahwa wawancara bisa anonim, tapi ia menegaskan tak masalah identitasnya diungkap, dengan alasan dunia perlu tahu apa yang terjadi terhadap perempuan-perempuan Yazidi.

Perempuan 25 tahun itu, demikian diwartakan BBC, menjadi orang Irak pertama dalam sejarah yang memenangkan Nobel Perdamaian. Empat tahun lalu, tepatnya 15 Agustus 2014, desanya di Pengunungan Sinjai, dataran tinggi di Irak Utara, diserbu oleh para teroris ISIS. Seketika itu nasib Nadia berubah.

Pada 2016, Nadia masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah Time. Dalam tahun yang sama, bersama pengacara HAM internasional Amal Clooney, Nadia meminta PBB agar menyatakan tindakan ISIS sebagai genosida sehingga para tokoh kelompok radikal itu yang tertangkap hidup dapat dibawa ke Mahkamah HAM Internasional.

Tahun lalu PBB mengangkatnya sebagai duta besar khusus. Dan tahun ini ia mendapat Nobel Perdamaian bersama Denis Mukwege, dokter kandungan dari Republik Demokratik Kongo, yang selama beberapa dekade membantu perempuan pulih dari pemerkosaan saat perang di negara tersebut.

Bersama beberapa rekan, Mukwege merawat tak kurang dari 30.000 perempuan korban perkosaan.Ia telah beberapa kali mendapatkan penghargaan internasional, termasuk penghargaan HAM PBB pada 2008 dan teripilih sebagai tokoh Afrika pada 2009.

Rumah sakit tempat ia merawat korban mendapat perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB secara permanen.