BREAKINGNEWS.CO.ID - Pemerintah Iran kembali menjadi pusat perhatian dikarenakan menerapkan sejumlah aturan ketat selama bulan suci Ramadan, termasuk melarang pria melihat wanita.

"Peringatan kepada perempuan agar menghargai hijab lebih dari sebelumnya dan pria harus menghindari melihat langsung ke arah perempuan," ujar juru bicara Kementerian Kehakiman Iran, Gholan Hosein Esmaili. Esmaili mengatakan bahwa tidak hanya itu saja, pemerintah juga akan mengadili orang yang kedapatan makan di tempat umum selama bulan Ramadan.

"Siapapun yang melanggar instruksi selama Ramadan ini akan dianggap melakukan tindakan kriminal dan harus dihukum oleh unit aparat penegak hukum," tutur Esmaili sebagaimana dikutip dari The Telegraph, Senin (13/5/2019). Kepolisian moral di Iran juga menyatakan akan menahan orang yang memutar musik di mobil. Aparat kemudian akan menderek mobil itu dan menjatuhkan sanksi besar kepada pengemudinya.

Sejumlah pengamat menganggap sikap pemerintah Iran untuk memperketat semua aturan ini sebagai upaya meningkatkan kepatuhan warga. Beberapa wakru terakhir ini, publik menyoroti sikap Iran yang semakin keras terhadap Amerika Serikat (AS). Mereka khawatir sikap pemerintah ini akan membuat perekonomian Iran merosot.

Sebelumnya, Iran memang sempat melontarkan ancaman bakal melanggar sejumlah kesepakatan nuklir yang diteken pada 2015 lalu jika para pihak penandatangan tidak melindungi Teheran dari dera sanksi AS. Melalui pidato di stasiun televisi nasional, Rouhani melontarkan langsung ancaman tersebut kepada negara-negara yang menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA, yakni Inggris, Prancis, Jerman, Cina, dan Rusia.

Perjanjian yang diteken pada 2015 lalu itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. Sebagai balasan, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.

Akan tetapi, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran. Iran sendiri kini tengah didera inflasi hingga 50 persen, membuat mata uang mereka nyaris anjlok.

Tak hanya masalah ekonomi, Iran juga dilanda berbagai bencana, termasuk banjir besar-besaran yang menghancurkan lahan di 26 provinsi. Bencana itu juga menyebabkan ancaman wabah penyakit bagi jutaan orang di wilayah pinggiran Iran. Muak dengan keadaan kehidupan mereka, para warga Iran pun turun ke jalan dalam berbagai demonstrasi.