JAKARTA - Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama, Yahya Staquf menegaskan bahwa, walaupun dirinya menerima undangan ke Yerusalem atas undangan lembaga Israel, akan tetapi, sikapnya yang berpihak kepada Palestina tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Sebagai mana yang Anda ketahui, beberapa orang di Indonesia, juga tempat lain, Hamas, Otoritas Palestina, OKI, membuat pernyataan soal kunjungan saya di sini," kata Staquf dalam sebuah forum di Yerusalem, yang disiarkan secara langsung lewat Facebook, Rabu (13/6/2018). "Banyak orang Indonesia, mereka berteriak kepada saya, mempertanyakan saya sebagai muslim mengunjungi negara Yahudi, menuduh saya mengkhianati Palestina dan sebagainya. Tapi menurut saya, bukan saya yang harus menjawabnya, karena itu sudah jelas bagi semua orang. Saya tidak harus menjelaskan apa-apa."

"Saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Sebagai ulama yang melayani Nadhlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, mungkin di seluruh dunia, dengan rekam jejak berpihak pada Palestina. Saya membela Palestina, saya membela rakyat Palestina. Tanpa saya harus katakan, saya berdiri bersama Palestina, tentu saja. Itu jelas. Apa yang Anda harapkan dari muslim asal Indonesia seperti saya?" ujarnya.

Yahya Staquf Tak Wakili NU

Yahya Staquf berkunjung ke Yerusalem sejak 10 Juni 2018. Lawatannya disebut-sebut atas nama pribadi, tidak mewakili Nahdlatul Ulama di mana dia menjabat sebagai Sekjen, Terlebih dirinya sebagai Dewan Pertimbangan Presiden. Presiden Joko Widodo di Istana Bogor juga sudah menyatakan bahwa lawatan Yahya Staquf atas nama pribadi.

Kunjungan atas undangan American Jewish Community (AJC) tersebut menuai kecaman. Yahya Staquf dianggap tidak sensitif atas situasi yang terjadi di Jalur Gaza beberapa waktu terakhir. Di mana lebih dari 130 warga Palestina tewas serta ribuan lainnya luka-luka akibat kekerasan yang dilakukan tentara Israel. Kekerasan tersebut mendapatkan kecaman dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) lewat resolusi yang baru saja diloloskan Majelis Umum (MU).

Sebelum memaparkan ceramahnya, Yahya menegaskan bahwa dirinya menerima undangan dengan harapan bisa menghidupkan perdamaian yang tampaknya akan mati. "Saya tahu, saya memiliki konsekuensi yang saya hadapi saat ini, jadi saya tidak terkejut. Dikarenakan saya prihatin dengan kondisi Palestina, khawatir terhadap rakyat Palestina, namun kekhawatiran saya yang terdalam adalah saya takut bahwa seluruh upaya perdamaian buntu dan harapan perdamaian mati. Perdamaian sedang sekarat dikarenakan perkembangan terakhir, tidak jelas."

"Jadi saya percaya bahwa harus ada sesuatu yang dilakukan untuk mengubah situasi. Saya bersyukur menerima undangan karena menunjukkan keinginan AJC untuk berkomunikasi, mendorong saya bicara dan mereka akan mendengar. Kita masih ada harapan untuk perdamaian, melihat solusi untuk hal ini. Itulah yang mendorong saya ke sini," kata Yahya Staquf. "Saya berharap, apa yang saya lakukan bisa memberikan sesuatu. Selama berkunjung ke Yerusalem."

Tidak hanya Hamas, Organisasi Kerja Sama Islam dan Otoritas Palestina mengecam lawatan Yahya Staquf ke Yerusalem atas undangan Israel. Mereka berpendapat bahwa Yahya Staquf ikut dalam kampanye Israel, yang menggambarkan seolah-olah mereka cinta damai. Walaupun sebenarnya dalam kenyataannya, mereka terus melibas warga Palestina yang dijajah.

Beberapa kalangan juga membandingkan Yahya Staquf dengan tim sepak bola nasional Argentina yang menolak bertanding di Yerusalem, juga Shakira yang menolak tampil di sana karena menyadari bakal menjadi simbol propaganda pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.