JAKARTA - Pada dasarnya semua orang normal ingin melihat yang erotik, yaitu sesuatu yang memberikan rangsangan seksual sehingga menimbulkan reaksi seksual. Alasannya, karena setiap orang normal, pria maupun wanita, punya dorongan seksual. Jadi tidak benar anggapan bahwa hanya pria yang senang melihat sesuatu yang erotik.

Namun sesuatu yang erotik bagi seseorang belum tentu erotik bagi orang lain, walau secara umum ada persamaan tentang nilai erotik suatu obyek. Contohnya, gambar sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman pipi, bagi sebagian orang mungkin dianggap bernilai erotik, tetapi bagi sebagian lain tidak. Demikian juga gambar pria wanita sedang berciuman bibir.

Gambar sepasang pria dan wanita berpelukan dalam keadaan telanjang, secara umum dianggap bernilai erotik. Artinya, semua orang normal menganggapnya mempengaruhi dorongan seksual, walau besar pengaruhnya dalam menimbulkan reaksi seksual tetap berbeda.

Video yang menunjukkan sepasang pria wanita sedang berhubungan seksual, secara umum juga bernilai erotik. Semua orang yang melihatnya merasakan bahwa gambar itu mempengaruhi dorongan seksualnya. Tetapi ketika gambar itu berubah menjadi adegan dua pria dan satu wanita bergantian melakukan hubungan seksual, apalagi dengan berbagai perilakunya, nilai erotiknya tidak lagi berlaku umum. Sebagian orang tidak lagi tertarik melainkan ngeri atau jijik, sebagian lain merasa tertarik. Karena itu gambar atau video erotik yang diproduksi untuk tujuan pendidikan sangat berbeda dengan bahan yang diproduksi

untuk tujuan komersial. Ada alasan mengapa orang senang melihat sesuatu yang erotik.
Pertama, mendapat tambahan informasi tentang seksualitas yang biasanya dirahasiakan.
Kedua, bahan erotik memberi kesempatan melatih secara imajinasi tentang sesuatu yang ingin lebih diketahui.
Ketiga, bahan erotik erat kaitannya dengan rekreasi.

Rangsangan yang diberikan oleh bahan-bahan erotik dapat menimbulkan reaksi seksual, baik pada pria maupun wanita. Reaksi seksual yang muncul bersifat fisik dan psikis. Pada masa lalu orang berpendapat bahwa pria lebih kuat mengalami reaksi seksual terhadap rangsangan audiovisual daripada wanita.

Pendapat ini salah. Pria dan wanita sama dalam mengalami reaksi seksual terhadap bahan bersifat erotik. Karena itu bagi orang dewasa yang mengalami gangguan fungsi seksual tertentu, bahan erotik harus diakui mempunyai manfaat. Contoh, untuk membedakan apakah suatu disfungsi seksual disebabkan oleh faktor fisik atau psikis, bahan erotik tertentu dapat digunakan untuk mengujinya secara sederhana.

Melihat gambar erotik baik melalui tayangan di internet maupun gambar di majalah atau media lain itu wajar saja. Walau subyektif, ada bagian tubuh tertentu yang bersifat erotik. Sepanjang hanya menikmati melalui penglihatan, itu bukan masalah. Namun jika kebiasaan itu diekspresikan dalam perilaku seksual, tentu itu menjadi masalah. Misalnya, mengekspresikan dalam kata-kata porno atau bahkan memegang bagian tubuh rekan kerjanya.

Pada masa kini sangat sulit menutup gambar atau tayangan erotik seperti itu dari para remaja, bahkan sangat mudah mendapatkannya. Bukan hanya di internet, di pinggir jalan banyak pedagang yang menawarkannya dengan harga murah. Dalam situasi seperti ini, pendidikan seks untuk remaja mutlak diperlukan. Tidak ada alasan lagi untuk menunda atau menganggap pendidikan seks tidak sesuai dengan budaya Indonesia.