JAKARTA –Filipina dikabarkan dalam waktu dekat akan mengajukan tuntutan kepada pperusahaan obat yang memproduksi vaksin demam berdarah asal Prancis, Sanofi.  Ancaman itu muncul setelah manajemen perusahaan yang bermarkas di Prancis tersebut setelah menyampaikan bahwa vaksin demam berdarah Dengvaxia produksi mereka ternyata dapat memperburuk gejala pada orang yang pertama kali terjangkiti.

Dengvaxia adalah vaksin demam berdarah pertama di dunia yang mendapatkan persetujuan penggunaan.

Sedangkan Filipina  telah menjalankan program imunisasi massal dengan vaksin tersebut sejak  tahun lalu dengan  memberikan Dengvaxia pada lebih dari 733.000 warganya.

Pengumuman itu pada akhirnya membuat pemerintah Filipina marah dan segera menghentikan program imunisasi demam berdarah pertama di dunia serta menghentikan penjualan vaksin itu. “Akhirnya pengadilan hukum yang akan memutuskan sejauh mana tanggung jawab yang harus ditanggung Sanofi,” kata Menteri Kesehatan, Francisco Duque dalam siaran televisi pada Kamis (7/12/2017).

Sanofi sudah berusaha meredakan kekhawatiran dengan menyampaikan vaksin Dengvaxia tidak akan mengakibatkan orang yang sudah diimunisasi meninggal serta tidak akan mengakibatkan infeksi.

Akan tetapi, pemerintah Filipina menilai Sanofi sudah membuat pernyataan yang membingungkan.

Sebagai tindakan, pemerintah kemungkinan akan meminta Sanofi mengembalikan uang sebesar 1.4 miliar peso (sekitar Rp 1 triliun) untuk persediaan vaksin yang belum terpakai.

Ditambahkan, pemerintah juga kemungkinan meminta Sanofi untuk menyediakan biaya jaminan ganti rugi untuk anak-anak yang harus menjalani rawat inap setelah divaksinasi.

Akan tetapi dari pihak Sanofi belum bisa dimintai komentar terkait pernyataan Duque maupun permintaan pemerintah itu.