BREAKINGNEWS.CO.ID - Saat ini calon presiden (capres) nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) tengah memainkan strategi ofensif. Strategi tersebut dimainkan lantaran khawatir dengan pertumbuhan elektabilitas lawan politiknya yakni Prabowo-Sandi yang menanjak naik. Pertumbuhan tersebut juga diyakini dapat menyalib elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019.

"Pak Jokowi barangkali mulai lelah juga dengan propoganda ofensif sang penantang terkait antek asing, impor, hutang dan tenaga kerja asing dan seterusnya. Sehingga dalam pidatonya yang cukup berapi-api,  terjadi sesuatu yang tak biasa, pak Jokowi yang dulunya kalem 'rapopo, nggak mikir' sekarang ofensif, bahasa kerennya pak Jokowi tancap gas menyerang balik terhadap sang penantang soal antek asing yang dialamatkan atau dituduhkan ke Jokowi selama ini," kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, Sabtu (9/2/2019).

Menurut Pangi, Jokowi kembali mempertegas bahwa beliau bukan antek asing, terbukti Jokowi melakukan nasionalisasi aset negara seperti Blok Mahakam, Blok Rokan, Freeport dan banyak lagi  yang masih diperdebatkan kedua paslon.

"Beliau (Jokowi) mengatakan selama empat tahun lamanya menahan diri nggak menyerang dan sekarang tuduhan antek asing nampaknya di-counter habis-habisan," ujar Pangi.

"Incumbent memakai strategi ofensif, barangkali ini bagian dari strategi Jokowi dengan menyerang balik, agar tuduhan, serangan dan narasi negatif yang di alamatkan ke Jokowi mulai sedikit mereda, hasilnya Prabowo tidak terlalu sering melancarkan serangan ofensif dengan pendekatan 'Game theory' propoganda politik ke kubu petahana," sambungnya.

Selain itu, Pangi juga menilai incumbent bisa saja ingin melihat seberapa kuat daya tahan atau kemampuan bertahan sang penantang dari serangan balik yang dilancarkan secara ofensif oleh kubu incumbent.

"Oleh karena itu, kalau kita zoom in lebih dekat, sepertinya ada kecemasan  petahana nampaknya dalam pendekatan post truth, opini yang terus berulang-ulang bisa menjadi fakta sebuah pembenaran. Ketika elektabilitas itu mulai kompetitif, incumbent mulai sedikit panik dan terancam dengan politik propoganda ala rusia sang penantang, membela diri dan sekaligus melakukan strategi ofensif terhadap sang penantang dianggap sebagai pilihan yang sudah tepat," terangnya.

"Sekali lagi, lalu yang antek asing itu siapa? nyinyir dan saling tuding antek asing, sama sama nggak ngaku, sama sama nggak punya data dan bukti kuat, sehingga yang ada sampah, namun nggak kecium baunya," imbuh Pangi.

Baiknya, lanjut Pangi, balik saja ke trayek awal substansi kampanye dengan narasi dan literasi yang benar, kembali bahas janji kerja, visi misi, harapan baru. Sederhana, bagi seorang petahana fokus saja memainkan peran, bagaimana satu persatu memenuhi atau menjawab janji kampanye tempo dulu. Apa yang diinginkan rakyat satu demi terjawab, menjelaskan semua kerja keras, monumen prasasti keberhasilan atau capaian pemerintah selama ini, agar masyarakat terpuaskan dengan kinerja petahana.

"Peran yang coba dimainkan bagi sang penantang, imaginasi membaca sentimen perasaan publik. Seperti menjawab kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran rakyat dan mencoba memberikan harapan baru, dari janji yang mengawang-ngawang tidak commen sense untuk dijalankan sampai janji yang realistik untuk dijalankan dan ditepati," pungkasnya.