JAKARTA - Telegram rupanya belum sepenuhnya terbebas dari permasalahan dengan pihak regulator Rusia sejak menolak memberikan enkripsi data pada bulan April 2018. Setelah pihak pemangku kepentingan Rusia mengeluarkan pernyataan bahwa Telegram resmi dilarang (dan memblokir puluhan layanan VPN yang memfasilitasinya), kini Rusia meminta Apple untuk menarik aplikasi ini dari peredaran di Apple Store. Pengguna Telegram di Rusia sendiri hanya berkisar tujuh persen dari keseluruhan pengguna.

Seperti dilansir dari WCCFTech, Senin (28/5/2018), permintaan terhadap Apple ini terpaksa dilakukan pihak Rusia karena larangan penggunaan Telegram rupanya tidak sepenuhnya digubris oleh masyarakat di negara tersebut. Akibatnya, lembaga sensor Rusia meminta Apple dan memberikan batas waktu satu bulan untuk segera menarik Telegram dari peredaran atau menghadapi konsekuensi dari pihak regulator.

Telegram menyebut bahwa Apple telah menghalangi aplikasinya untuk melakukan pembaruan secara global sejak Rusia melakukan pelarangan terhadap layanan perpesanan tersebut. Hal ini disampaikan Pavel Durov melalui cuitan di akun Twitter dan Telegramnya.

Menurutnya, meski Telegram tersedia di App Store, namun Telegram tak bisa melakukan pembaruan aplikasi. Tanpa pembaruan ini Telegram tak bisa berjalan dengan baik di sistem operasi iPhone terbaru. Selain itu, pembaruan itu juga dimaksudkan agar Telegram bisa sejalan dengan aturan data pribadi yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

"Rusia melakukan pelarangan terhadap Telegram sejak April lalu karena kami menolak memberikan kunci dekripsi untuk membuka komunikasi semua pengguna kami kepada agen keamanan Rusia. Kami percaya telah melakukan satu hal yag mungkin, menyelamatkan hak privasi pengguna di negara yang bermasalah," jelas Durov, seperti dikutip Reuters.

Apple memang memiliki kendali terhadap tiap aplikasi yang ada di App Store. Mereka akan melakukan pemeriksaan, melakukan persetujuan atau tidak terhadap tiap pembaruan aplikasi tersebut. Jika suatu pembaruan tidak disetujui Apple, maka pembaruan itu tidak bisa didistribusikan kepada pengguna.

Apple masih menolak berkomentar mengenai permintaan Rusia tersebut. Apple sendiri dikenal selalu berpihak sebagai pelindung data pribadi pengguna. Kasus serupa Telegram sempat menimpa Apple dan FBI. Meski demikian di Cina, Apple menyerah dengan aturan pemerintah setempat. Perusahaan itu akhirnya melarang aplikasi VPN di App Store dan menyingkirkan New York Times dari pasar digitalnya.