BREAKINGNEWS.CO.ID – Pemerintah Rusia menuding Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) sudah melakukan interupsi ‘berbahaya’ yang dilakukan dari pesawat militernya di atas Laut Hitam. Pemerintah Rusia menganggap rancangan tersebut sebagai upaya untuk memprovokasi Moskow.

RAF diketahui mencegat sebuah pesawat patroli maritim Rusia di Laut Hitam pada 24 Agustus 2018 lalu, setelah sebelumnya melakukan hal serupa pada jet tempur Negeri Beruang Merah pada Rabu (22/8/2018) pekan lalu di lokasi yang juga sama. Kedutaan Besar Rusia di London mengajukan pertanyaan: "... ancaman macam apakah (yang membuat) Inggris atau sekutu-sekutunya melakukan patroli terhadap pesawat kami, yang secara hipotetis, terbang dari pantai Rusia, sekitar 1.500 mil jauhnya dari Inggris?"

Dikutip Independent.co.uk pada Senin (27/8), pemerintah Rusia begitu menyesalkan tindakan Inggris, dan menilainya sebagai penghinaan terhadap batas kedaulatan Rusia, yang sebagaimana diketahui, berada paling dekat dengan Laut Hitam. Di lain pihak, RAF sengaja mempertahankan kehadirannya di tengah negara-negara Baltik, dan juga di Rumania, untuk menghalangi potensi tindakan militer Rusia setelah aneksasi Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014 lalu.

Tiga negara yang berbatasan langsung dengan Laut Hitam, yaitu Rumania, Bulgaria, serta Turki, diketahui merupakan sekutu NATO dan juga mitra loyal Inggris di Eropa Timur. Moskow menuturkan, aktivitasnya di wilayah Laut Hitam merupakan bentuk kegiatan rutin, dan sesuai dengan hukum internasional.

Banyak pengamat mengatakan kalau hubungan antara London serta Moskow semakin memburuk setelah insiden racun saraf Novichok pada mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal, serta putrinya, Yulia, di distrik Salisbury, London. Inggris menuduh Rusia sebagai pihak yang paling bertanggung jawa atas serangan itu, akan tetapi ditolak tegas oleh Moskow, yang menyebutnya sebagai omong kosong.

Desakan Menlu Inggris

Di lain pihak, kunjungan pertama Menteri Luar Negeri Inggris yang baru, Jeremy Hunt, ke Amerika Serikat (AS), bertujuan mendesak Negeri Paman Sam dan Uni Eropa "untuk memastikan sanksi terhadap Rusia bersifat komprehensif". Menlu Hunt juga disebut terus fokus pada respons global terhadap "perilaku memfitnah" Rusia, yang terus dipermasalahkan Inggris dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini terutama menyusul insiden pemberian racun saraf Novichok pada agen ganda Negeri Beruang Merah.

"Tentu saja kita harus terlibat dengan Moskow, tetapi kita juga harus tegas dalam menyikapi kebijakan luar negeri Rusia di bawah Presiden Putin, yang telah membuat dunia menjadi lebih berbahaya," kata Hunt di Institut Perdamaian AS di Washington, sebagaimana dikutip dari CNN pada pekan lalu. "Dan hari ini, Britania Raya meminta sekutunya, untuk melangkah lebih jauh dengan meminta Uni Eropa untuk memastikan bahwa sanksi terhadap Rusia bersifat komprehensif, dan bahwa kita benar-benar berdiri bahu-membahu dengan AS," kata Hunt dalam pidatonya.

Selain itu, Menlu Hunt juga berpendapat bahwa nilai-nilai yang mendukung sistem berbasis aturan internasional, yang disebutnya telah membuat kondisi aman selama beberapa dekade, tengah berada dalam ancaman. "Ancaman itu adalah tindak-tanduk Rusia yang sulit terbuka pada kita semua," lanjut perwakilan luar negeri Inggris itu.