BREAKINGNEWS.CO.ID -   Mengawali hari terakhir perdagangan pekan ini, mata uang garuda kembali melanjutkan pelemahan.  Setelah sehari sebelumnya ditutup turun pada posisi  Rp14.116 per dolar AS.   Pada perdaganga Jumat (2/8/2019) pagi, rupiah melemah lagi sebesar 0,55 persen   atau berada di angka Rp14.194 per dolar AS.

Pagi hari ini, pergerakan mata uang utama Asia terbilang bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,09 persen, dolar Singapura sebesar 0,12 persen, dan yen Jepang sebesar 0,21 persen.

Kemudian, terdapat pula mata uang Asia yang melemah, seperti ringgit Malaysia 0,2 persen, won Korea Selatan sebesar 0,36 persen, dan peso Filipina sebesar 0,24 persen. Di sisi lain, baht Thailand tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.

Sementara itu, mata uang negara maju menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,04 persen, poundsterling Inggris menguat 0,08 persen, dan dolar Australia menguat 0,14 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pasar bereaksi terhadap keputusan bank sentral AS, The Fed, yang memberi sinyal tidak akan melakukan penurunan suku bunga secara agresif. Meskipun, kemarin The Fed telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Sinyal ini dinilai sebagai isyarat bahwa penurunan suku bunga kemarin merupakan yang terakhir. Ditambah lagi, tadi malam, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor sebesar 10 persen bagi produk impor China sebesar US$300 miliar. Kenaikan tarif impor berlaku mulai 1 September 2019.

Padahal sebelumnya, International Monetary Fund (IMF) meramal kenaikan tarif ini akan memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2 persen di 2020 mendatang. "Sehingga dalam transaksi akhir pekan rupiah akan kembali melemah di level Rp14.090 hingga Rp14.150 per dolar AS," ujar Ibrahim.