BREAKINGNEWS.CO.ID - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hendrawan Supratikno menilai bahwa imbauan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin untuk tidak menjadikan tempat ibadah sebagai sarana politik merupakan sebagai bentuk menjaga agar kehormatan rumah ibadah dipelihara.

Menurutnya, rumah ibadah sendiri merupakan oase keteduhan dan keheningan. "Saya kira itu untuk menjaga-jaga agar kehormatan rumah ibadah tersebut terus terpelihara," kata Hendrawan kepada breakingnews.co.id saat dihubungi, Senin (28/1/2019).

Selain itu, dirinya juga mengatakan jika fungsi rumah ibadah itu sendiri yakni berkaitan dengan iman seseorang. Jadi, salah jika rumah ibadah dijadikan sebagai sarana politik praktis.

"Fokus iman adalah penghayatan dan introspeksi. Di lain sisi, politik adalah panggung ya g penuh rivalitas dan kebisingan. Fokusnya adalah perhelatan dan provokasi," kata Hendrawan yang juga anggota DPR RI Komisi XI itu.

Dirinya melanjutkan, politik persaudaraan dan pencerahan harusnya bersama-sama disepakati oleh penggerak politik itu sendiri. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka potensi benturan antara sesama dapat diminimalisir sekecil mungkin.

"Kita sepakat membangun politik persaudaraan dan pencerahan. Semua potensi perbenturan harus kita minimalkan," tegasnya.

Adapun himbauan yang disampaikan oleh Menag Lukman tersebut menurutnya agar semua ibadah, baik Masjid, Mushalla, Gereja dan rumah ibadah lainnya agar menjaga kesuciannya. Hal itu dilakukan agar terhindar dari segala macam hal-hal yang berbau politik.

Selain itu, dirinya juga menilai bahwa semua umat maupun jemaat di masing-masing rumah ibadah itu sendiri juga memiliki pandangan politik yang berbeda. Untuk itulah, dirinya menghimbau kepada seluruh elemen untuk menjaga betul kesakralan hingga kesucian rumah ibadah itu sendiri agar tidak dipengaruhi aktivitas politik praktis begitu.

Ia menilai, sejatinya kegiatan politik dilakukan ditempat-tempat terbuka atau di ruang publik, di tempat-tempat umum dan sebagainya bukan mengunakan rumah ibadah sebagai tempat menyalurkan aspirasi politik.