Indonesia baru saja mengalami fase cukup sulit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam proses Pilkada Gubernur di DKI Jakarta.

Dalam Pilkada Jakarta ini, tidak hanya terjadi ‘perang’ antar partai politik pengusung pasangan calon (Paslon) tapi juga terjadi intrik dan benturan antar kelompok dan agama yang dipicu pernyataan salah satu Paslon yang dinilai telah melecehkan ayat suci Al Quran.

Kasus di Pilkada di Jakarta ini tidak hanya membuat ibukota bergejolak, tapi juga membuat seluruh Indonesia ‘panas’.

Kini Pilkada Jakarta telah usai. Kondisi di ibukota dan Indonesia pun bergerak ke arah kondusif, meski bangsa Indonesia tetap harus waspada dengan adanya upaya-upaya yang ingin memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya adalan ancaman radikalisme dan terorisme.

“Apa yang terjadi pada Pilkada Jakarta kemarin, menurut saya bisa dijadikan indikator paling mudah apakah revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo berjalan atau tidak. Memang ada kelompok radikal yang terindikasi menunggangi Pilkada kemarin meski sulit diukur seberapa besar pengaruh kelompok radikal tersebut. Pastinya, kekuatan masyarakat lah yang akhirnya terbawa dan menentukan proses Pilkada itu,” papar Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio. di Jakarta, Rabu (26/4/2017).

BREAKINGNEWS.CO.ID