BREAKINGNEWS.CO.ID - Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI sudah mendekat. Rencananya 2 November 2019 kongres yang akan memilih ketua, wakil ketua dan anggota Komite Eksekutif itu akan digelar di Jakarta. Tempat pastinya belum ditentukan. Biasanya di hotel-hotel yang memiliki daya tampung untuk lebih dari 120 orang. Maklum jumlah voters yang hadir diperkirakan 107.

Bukan tempat saja yang belum pasti. Calon-calon ketua pun belum bermunculan. Paling hanya Komjen (Pol) Mochamad Iriawan atau Iwan Bule yang sudah mendeklarasikan dirinya. Ia bahkan sudah melakukan safari atau road show ke sejumlah pemilik hak suara. Selain Iwan Bule belum ada lagi yang menyatakan keseriusannya untuk maju.

Ada beberapa nama yang diperkirakan muncul atau sengaja dimunculkan oleh sejumlah anggota PSSI. Mulai dari Rahim Soekasah, mantan manajer timnas, La Nyalla Mattalitti, mantan Ketua Umum PSSI, dan ada pula nama Aqsanul Qosasi. Beberapa nama lain mungkin dalam waktu dekat akan bermunculan. Entah siapa mereka.

Dari sekian banyak nama tersebut, ada yang mulai mendekat kepada Nirwan Dermawan Bakrie. Pengusaha dari kelompok Bakrie ini memang dikenal sebagai “sesepuh” di PSSI. Figur yang dianggap “gila bola” ini sering kali menjadi tokoh kunci atau setidaknya dianggap sangat penting perannya untuk mensukseskan seorang menjadi Ketua Umum PSSI.

Kabarnya Iwan Bule pun sudah menghadap kepada NDB bersama seorang wartawan yang juga pemilik media berita online di Tanah Air. Namun NDB, sendiri hingga kini belum memiliki “jago” yang dianggapnya cukup layak dan pantas untuk ia dukung.

Sebaliknya, NDB justru mengapungkan syarat yang lumayan sulit. “Siapa pun calonnya hendaknya ia juga disetujui dan didukung oleh pemerintah,” ucapnya. Alasannya cukup sederhana namun sangat rasional. “Kalau tidak didukung pemerintah, nanti bakal susah. Sudah capek-capek membangun sepak bola, kalau ketua itu berseberangan bisa “mental” lagi,” kata NDB kepada sejumlah wartawan di kantornya, Kuningan, Jakarta.

Value Sepak Bola 

NDB pun memberikan banyak contoh. Misalnya Nurdin Halid yang kala itu berseberangan dengan Menpora dan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2010.  Kemudian La Nyalla Mahmud Mattalitti yang tak akur dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bahkan Edy Rahmayadi yang awalnya disetujui istana, namun belakangan seperti berlawanan, harus mundur dari jabatannya di PSSI karena berbagai sebab.

“Dukungan pemerintah itu penting. Tanpa ada dukungan atau bahkan berseberangan, maka value sepak bola yang dibangun dengan susah payah bisa hancur lagi. Capek kita ngurus bola ini,” ungkap NDB. Apalagi sepak bola itu “hanya” hobi bagi dirinya. “Kalau sampai hobi kita dimusuhi, lalu apa enaknya?” tutur NDB, yang menganggap dirinya bukan orang penting yang perlu dimintai restu bagi calon ketua baru. 

Ia pun membandingkan value sepak bola yang beberapa tahun lalu sudah berada di atas satu triliun rupiah, kini mulai merosot lagi. “Sekarang value-nya cuma 500 miliar rupiah saja,” ucap NDB.

Baginya, siapa pun yang maju, bahkan semakin banyak yang ingin maju, baik saja buat sepak bola. Persaingan diharapkan semakin ketat untuk mencari pemimpin PSSI yang berwawasan dan tahu benar soal sepak bola.  Namun satu syarat tambahan yang ia inginkan adalah restu istana kepada calon ketua itu. Ini diperlukan agar PSSI selamat kepengurusannya dan sepak bola Indonesia berjalan tanpa gonjang-ganjing yang tidak perlu.