JAKARTA - Presiden Direktur PT Angkasa Pura II (Persero), Muhammad Awaluddin, berharap mogok terbang yang direncanakan oleh para pilot maskapai Garuda Indonesia tidak sampai mengganggu pelayanan angkutan Lebaran karena pada tahun ini diperkirakan ada sekitar 6,2 juta orang yang akan menggunakan jasa angkutan udara. "Semoga tidak ganggu kegiatan masyarakat yang akan kembali ke kampung halaman," kata Muhammad Awaluddin kepada Antara saat melakukan inspeksi mendadak di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Kota Pekanbaru, Sabtu (2/6/2018).

Ia mengaku masih terus memantau perkembangan terkini tentang masalah internal maskapai Garuda Indonesia. Meski demikian, ia berharap agar rencana mogok terbang pilot Garuda Indonesia tidak merugikan masyarakat yang menjadi pengguna angkutan Lebaran.

"Kami berharap sesama pelaku komunitas bandara, mari kita jaga sama-sama. Kita melayani semua, layani masyarakat yang akan pulang mudik dan kembali. Harapan kita, kita harus kerja sama yang baik," katanya seperti dikutip dari laman Antaranews.com.

Pada tahun ini, lanjutnya, AP II memprediksi jumlah penumpang angkutan Lebaran yang akan menggunakan Bandara yang dikelolanya bakal mencapai angka 6,2 juta orang. Jumlah itu menunjukan ada pertumbuhan sekitar 8-9 persen dibandingkan jumlah penumpang pada tahun lalu yang mencapai 5,56 juta orang.

Sebelumnya, Asosiasi Pilot Garuda (APG) memastikan 1.300 pilot dan 5.000 kru Garuda Indonesia akan melakukan aksi mogok kerja dalam waktu dekat, termasuk saat arus mudik Lebaran.

Semua kru dan karyawan Garuda yang tergabung dalam Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), yang berjumlah 10 ribu orang, melakukan mogok massal pada waktu yang telah ditentukan.

 

APG dan Sekarga telah menyampaikan rencana mogok dan tuntutan mereka kepada pemerintah setahun lalu. Hal yang sama mereka lakukan pada 2 Mei lalu dengan memberikan waktu kepada pemerintah hingga 30 hari kerja.

Tuntutan karyawan hanya ingin pemerintah menindaklanjuti tuntutan mereka, salah satunya melakukan perombakan pada direksi BUMN tersebut.

Ketua Umum Sekarga Ahmad Irfan Nasution sempat menyebutkan salah satu alasan mogok kerja itu adalah mediasi antara karyawan dan direksi Garuda tak memenuhi titik temu. Padahal mediasi diperlukan untuk membahas kerugian perusahaan hingga 213,4 juta dolar AS atau sekitar Rp2,88 triliun pada 2017, yang diduga karena kegagalan direksi dalam mengelola perusahaan.