JAKARTA – Bahasa Indonesia yang berakar dari  Melayu ternyata tumbuh dan dikembangkan oleh. Tapi yang mengembangkan Bahasa Indonesia menjadi tumbuh adalah orang Belanda menjajah nusantara. Orang pertama yang menggunakan bahasa Indonesia adalah Fransiscus Xaverius (1546-1547) , seorag pastor Katolik asal Portugis yang bekerja di tengah-tengah orang Ambon, Ternate, dan Morotai (Moro).

Hal itu disampaikan oleh budayawan Remy Silado ketika menjadi pembicara dalam Workshop Kritik Film tingkat lanjutan yang diadakan oleh Pusbang Film bekerka sama dengan wartawan film di Jakarta, Kamis (10/5/2018). “Waktu itu Fransiscus Xaverius: dia menerjemahkan Doa Bapa Kami, Salam Maria, Sepuluh Perintah Tuhan, dan Kredo – Pengakuan Iman Rasuli, dalam bahasa Indonesia. Itulah pertama kalo bahasa kita ditulis dalam bahasa latin tapi tidak dicetak,” kata Remy.

Budayawan bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong ini kemudian menjelaskan, setelah itu yang menyempurnakannya Bahasa Melayu ke dalam ketatabahasaan Indonesia adalah orang-orang Belanda seperti

Frederich de Houtman ( 1565), Danielle de Weries (1668) dan penggunaan bahas Melayu tinggi pada tahun 1773 oleh Melchior Zeideker , seorang dokter militer. Orang berjasa lainnya adalah HC HC Klinker.

Kemudian pada tahun 1800 Joseph Kamp orang Jerman yang bekerja kepada Belanda menatabahasa Melayu modern. Pada tahun 1855 suratkabar di Jakarta menggunakan bahasa Melayu tinggi. Baru pada abad ke-19 ada suratkabar yang diterbitkan oleh orang-orang Cina. Sastra orang Cina sudah termashur sejak abad ke-9. “Malaysia menuding kita mencuri bahasa mereka untuk menjadikan bahasa nasional mereka, padahal bahasa kita lebih lengkap dari Malaysia. Malaysia hanya menggunakan Bahasa Melayu. Bahasa kita asal Riau yang menjadi lingua franca bahasa Indonesia, dan diperkaya dengan banyak bahasa daerah dan bahasa asing lainnya,” papar Remy.

Penggunaan bahasa Indonesia di dalam film Indonesia belakangan ini cenderung menggunakan bahasa Melayu Betawi yang merusak tata bahasa Indonesia. Selain itu banyak produser yang lebih suka menggunakan bahasa Inggris untuk judul-judul fillm mereka.

“Bahasa Betawi merusak bahasa Indonesia. Dan orang menganggap fashion itu ada di bahasa Betawi, sehingga dialog-dialog dalam film kita, terutama sinetron menggunakan bahasa yang digunakan orang sehari-hari di Jakarta atau Betawi,” kata Remy.

Penggunaan bahasa Inggris atau frasa bahasa Inggris yang banyak digunakan sebagai istilah resmi di Indonesia, menurut Remy juga tidak tepat dan cemderung ngawur. Padahal ada frasa Indonesia yang bisa digunakan. “Kebudayaan kita sudah terbentuk, tetapi selalu masuk frasa bahasa Inggris yang ngawur. Seakan-akan tidak ada bahasa Indonesia. Sebegitu lengkapnya sebetulnya bahasa kita, yang kalau diterjemahkan ke bahasa asing jadi lucu.

Melintasnya kosa kata bahasa imggris itu lucu, contohnya quick count, lalu ada graasroot, akar rumput, padahal ada bahasa kita: jelata,”

Remy berharap pemerintah dan masyarakat tidak terlalu sering memggunakan bahasa asing di dalam bahasa Indonesia. Dan media massa juga berperan penting mengajar masyarakat untuk menghargain dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bukan ikut-ikutan menjadi ngawur.

Kepada penulis kritik film Remy mengingatkan bahwa Bahasa Indonesia sudah menjadi alat perjuangan. “Kritikus harus mempelajari dan memgikuti perkembangan kebudayaan. Pemahaman kebudayaan berguna untuk lebih memahami karya film,” tandas Remy.