BREAKINGNEWS.CO.ID - Relawan Gerakan Nusantara Militan (GNM) Prabowo-Sandi mendukung langkah hukum yang dilakukan oleh Partai Berkaya terhadap pernyataan politisi PDIP Ahmad Basrah, yang mengatakan Soeharto adalah guru koruptor. Adapun hal itu diutarakan Basrah dengan alasan karena terpancing dengan pernyataan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia korupsinya sudah stadium 4. Ketum GNM Prabowo-Sandi, Irfani Rachman Djojosoediro menilai pernyataan tersebut tidak tepat yang langsung menyerang pribadi Presiden RI ke-2 itu.

"Saya kira itu tidak tepat. Pak Prabowo sendiri mengungkapkan situasional saat ini, bukan personal. Tetapi Ahmad Basrah langsung menyerang pribadi almarhum Soeharto," kata Irfan dalam keterangannya, Kamis (6/12/2018). Selain itu, menurut Irfan, Basrah lupa bahwa dalam indeks korupsi partai-partai, bahwa PDIP menempati urutan teratas peringkat korupsi, di mana PDIP juga sebagai partai penguasa, banyak politisi dan kepala daerah berasal dari PDIP yang tertangkap tangan oleh KPK.

"Jika merunut sejarah sebelumnya, saat Megawati (Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri) berkuasa pun banyak kasus-kasus korupsi bahkan Mega korupsi, seperti kasus BLBI yang Berjumlah Rp600 triliun seperti yang pernah di ungkapkan oleh mantan menko ekonomi era Megawati yaitu Kwik Kian Gie. Penjualan aset negara yang sarat dengan korupsi seperti penjualan Indosat, kapal tengker, dan lain-lain. Banyak lagi aset-aset yang terjual ke pihak asing pada era itu," terangnya.

Menanggapi langkah gugatan hukum dari partai berkarya, Irfan pun sangat setuju, agar kedepan tidak lagi ada pihak-pihak yang mengeluarkan statement tanpa dasar dan bukti. Dan juga sebagai tolak ukur keadilan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia, keadilan hukum antara partai penguasa dengan partai yang oposisi. Selain itu, dirinya juga meminta kepada pihak-pihak yang berkompetisi untuk menjaga sikap dan sopan santun untuk tidak menjelek-jelekan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

"Karena setiap era, setiap pemimpin ada kebaikan dan kelemahan masing-masing. Jika selalu diungkit-ungkit keburukannya, maka Indonesia tidak akan pernah damai, kegaduhan selalu tercipta oleh para politisi-politisi yang haus kekuasaan demi meningkatkan elektabilitasnya dengan cara-cara yang tidak elegan dan beradab," ucapnya.

"Soekarno dan Soeharto adalah putra terbaik bangsa Indonesia yang pernah memimpin, Soekarno (Presiden RI ke-1) merumuskan Pancasila dan memerdekakan bangsa ini melalui proklamasinya. Soeharto adalah pemimpin yang setia menjaga Pancasila dan mengisinya dengan pembangunan melalui repelitanya, pembangunan yang terukur dan terencana yang kemudian membawa Indonesia ke era tinggal landas. Tetapi pihak-pihak yang tidak ingin Pancasila kuat dan Indonesia tinggal landas selalu mengusiknya hingga meletuslah reformasi yang di tunggangi pihak-pihak tertentu yang menginginkan Indonesia selalu gaduh dan kehabisan energinya, karena selalu gaduh," imbuh Irfan.

Tak hanya itu, di kubu Prabowo-Sandi pun, Irfan melihat adanya persatuan antara keluarga Bung Karno (yang di wakili oleh Rahmawati Soekarnoputri) dan Pak Harto (yang di wakili oleh Titiek Soeharto). Dirinya pun merasa ini adalah hal yang sangat bagus. Bahwa kedepan, Indonesia tidak lagi terjadi polarisasi antara orde lama dan orde baru, tidak lagi ada pertentangan tersebut, yang selalu di munculkan oleh pihak-2 yang menginginkan Indonesia tetap gaduh dan terus gaduh.

Dengan kemenangan Prabowo-Sandi kelak, maka Irfan berharap Indonesia bersatu padu, tidak ada lagi orde lama atau orde baru. Tetapi yang ada adalah orde Pancasila atau orde persatuan.

"Soekarno dan Soeharto menjadi dwi tunggal yang tak terpisahkan. Dari beliau-beliaulah Indonesia merdeka dan merasakan pembangunan yang masif di berbagai bidang. Dan bahkan FAO pun pernah menjadikan Indonesia sebagai percontohan dalam membangun sektor pertanian, sehingga Indonesia dapat ekspor pangan, bukan impor," pungkas Irfan.