BREAKINGNEWS.CO.ID - Bank Indonesia selaku otoritas keuangan Indonesia kembali mengerek jumlah suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 poin  menjadi 5,5  poin, Rabu, untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan meningkatkan daya tarik pasar keuangan dalam negeri. Keputusan tersebut dikeluarkan usai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dilangsungkan Rabu (15/8/2018).

Kenaikan tersebut sebenarnya sudah diprediksi pelaku pasar, guna meredam  volatilitas rupiah menyusul gejolak ekonomi yang sedang terjadi di Turki  menyusul konflik mereka dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya,  Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede mengatakan," "Tekanan dari Turki cukup berat di pasar keuangan regional. Sejak akhir Juli, nilai tukar melemah, terutama lira, turun sekitar 23 persen. Peso Argentina sekitar 7,7 persen, dan Afrika Selatan sekitar 7,6 persen. Untuk jaga volatilitas sudah meningkat tiga hari ini, BI akan naikkan suku bunga acuan 25 basis poin," ujarnya di Jakarta   Rabu (15/8/2018).
Joshua menambahkan,   fundamental ekonomi yang Turki kurang baik membuat investor global khawatir. Hal tersebut membuat persepsi sama terhadap negara berkembang yang mirip dengan Turki antara lain Meksiko, Afrika Selatan, India, Indonesia, dan Filipina.

Selain meredam volatilitas, menurut Josua, BI menaikkan suku bunga acuan untuk menekan pelebaran defisit transaksi berjalan. Pada kuartal II 2018, defisit transaksi berjalan tembus 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Oleh karena itu, dengan menaikkan suku bunga acuan, diharapkan dapat membuat daya tarik Indonesia cukup tinggi. “Dana investor asing dari Jumat berkurang dengan kurang portofolio di negara berkembang sehingga membuat rupiah tertekan,” kata Josua.

Meski demikian, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat mendorong kenaikan suku bunga kredit dan simpanan. Namun, Josua melihat, bank akan menaikkan suku bunga secara bertahap dan tidak sebesar kenaikan suku bunga acuan. "Tren sudah kelihatan (kenaikan suku bunga). Bank sudah naikkan suku bunga secara bertahap," kata dia.

Ia menambahkan, menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga volatilitas rupiah dan menciptakan kepercayaan.