BREAKINGNEWS.CO.ID- Risk Consulting Group (RCG) memaparkan hasil riset pemerintah kolonial Belanda di hadapan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch. Dula dan Direktur Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekositem (Dirjen KSDAE), Wiratno di Ruang Kerja Bupati Mabar, Senin (20/8/2018).

Peniliti RCG, Berty Fernandes mengatakan jauh sebelum proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia (17/8/1945). Kata Berty, pemerintahan kolonial Belanda memiliki satu dasar kebijakan terhadap Komodo yakni sikap dan respon kebijakan berbasis riset dan kajian sains tanpa kesewenangan-kesewenangan kekuasaan kolonialis Belanda masa itu.

Tahun 1910 kata Berty, pemerintahan kolonial Belanda menempatkan Letnan Jacques Karel Henri van Steyn van Hensbroek di Pulau Flores. van Hensbroek yang mendapat laporan masyarakat tentang Komodo berangkat ke Taman Nasional Komodo (TNK) dan menyelidiki sendiri.

Van Hensbroek kembali dari Komodo membawa foto dan kulit komodo. Selanjutnya dikirim ke Direktur Museum Zoologi, Pieter Ouwens di Jawa dan Kebun Raya Bogor (Buitenzorg).

Dari foto dan spesimen kulit buaya darat itu kata Berty, Pieter Ouwens membuat kesimpulan sementara yakni buaya darat itu bukan seperti buaya umumnya, jenis buaya itu termasuk biawak sangat besar, hewan itu termasuk jenis baru di bidang sains (eropa).

Karena itu kata Berty, Pieter Ouwens merilis uraian ilmiah dan penamaan pertama kali tentang "Komodo Dragon" yang dikenal di seluruh dunia hingga awal abad 21 sebagai varanus komodoensis.

Lanjut Berty, selama perang dunia I dan II, ahli-ahli di Eropa dan Amerika Serikat belum berminat meriset khusus Varanus Komodoensis. Hingga tahun 1969 kata Berty, herpetolog Walter Auffenberg pada Florida Museum of Natural History (Museum Sejarah Alam Florida) bersama keluarganya khusus datang dan tinggal di Pulau Komodo.

"Ini adalah jejak awal riset dan kajian ilmiah pertama tentang komodo, bukan ahli dari negara RI tetapi ahli dari Amerika Serikat. Bersama assiten riset Putra Sastrawa, Walter Auffenverg meneliti lebih dari 50 Komodo, yang menghasilkan karya seminar the behivoral Ecology of the Komodo Monitor," ujar Berty.

Hingga awal abad 21 kata Berty diperkirakan hanya 2.500 komodo dapat bertahan hidup di alam liar karena kerusakan habitat yang berkelanjutan telah mengancam persebaran Komodo dan semakin rentan terhadap kepunahan.

Lebih lanjut Berty mengatakan bahwa beberapa ahli pernah memperkirakan bahwa Komodo berevolusi dari nenek moyangnya ukuran kecil menjadi ukuran besar ketika hidup di Pulau Flores, Komodo, Rinca dan Pulau lainnya (gugusan Pulau-Pulau yang tidak terhubung dengan daratan Asia) sejak akhir masa pleistosen.

"Karena tidak ada karnivora mamalia pada pulau-pulau ini, ukuran Komodo dapat tumbuh lebih besar dengan memangsa antara lain rusa, gajah (dwarf elephanats) dan babi," imbuhnya.

Sementara itu kata Berty, sejak penemuan fosil tertua Varanus Komodoensis dari era Plison akhir (sekitar 3 juta tahun silam) di daratan Australia, terungkap bahwa ukuran fisik varanus komodoensis sama dengan ukuran varanus komodoensis.

"Dari bukti arkeologis yang ditemukan di Gua Liang Bua, Kab. Manggarai, NTT. Komodo hidup bersama gajah kerdil, homo floresiensis, bangau raksasa, burung nasar kira-kira 50 ribu tahun silam," pungkasnya.