BREAKINGNEWS.CO.ID - Risk Consulting Group (RCG) memaparkan hasil riset pemerintah kolonial Belanda di hadapan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch. Dula dan Direktur Jenderal Konservasi Alam Sumber Daya Alam dan Ekositem (Dirjen KSDAE), Wiratno di Ruang Kerja Bupati Mabar, Senin (20/8/2018).

Peniliti RCG, Berty Fernandes mengatakan, pada 1 Oktober tahun 1998, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon/Department of Defense/DoD) di Arlington, Virginia (Amerika Serikat), membentuk Defense Threat Reduction Agency (DTRA) sebagai hasil dari Prakarsa Reformasi Pertahanan (Defense Reform Initiative) Amerika Serikat tahun 1997 guna konsolidasi organisasi-organisasi pertahanan Amerika Serikat, termasuk Defense Special Weapons Agency (pengganti Defense Nuclear Agency) dan On-Site Inspection Agency.

Lanjut Berty, DTRA memiliki jejak sejarah panjang yakni Defense Special Weapons Agency (1996–1998), Defense Nuclear Agency (1971–1996), Defense Atomic Support Agency (1959–1971), Armed Forces Special Weapons Project (1947-1959), dan berasal-usul dari Manhattan Project (1942-1946) yang meriset dan menghasilkan bom atom yang meluluh-lantakan kota Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II.

Dikatakan Berty, kini DTRA dengan jumlah karyawan sekitar 2.000 orang, berkantor di Fort Belvoir, Virginia, Amerika Serikat. DTRA merupakan Combat Support Agency guna menghadapi jenis-jenis senjata berdaya-rusak massal seperti high-explosives, senjata nuklir, senjata radiologis, senjata kimia, dan senjata biologis dengan misinya “... enables DoD and the U.S. Government to prepare for and combat weapons of mass destruction and improvised threats and to
ensure nuclear deterrence.”

Awal abad 21 kata Berty, DTRA mendanai khusus Barney Bishop, Monique van Hoek dan para kolega ahli lainnya pada College of Science, George Mason University, Amerika Serikat, guna meneliti darah Komodo.

"Dengan menggunakan metode bioprospecting, para ahli itu menemukan fragmen protein antimikroba dalam darah Komodo guna melawan infeksi
mematikan," jelasnya.

Lanjut Berty, penemuan ini diyakini dapat membantu pengembangan obat baru yang mampu melawan bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Hasil riset ini sedang dikaji oleh sejumlah industri obat dunia.

"Komodo yang hidup hanya pada lima pulau kecil di Negara RI awal abad 21, memiliki air liur yang mengandung sekitar 57 spesies bakteri, yang diyakini dapat mematikan mangsanya," imbuhnya.

Namun Komodo kata Berty, resisten terhadap bakteri-bakteri ini, dan serum Komodo terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Zat yang dikenal sebagai peptida antimikroba kationik (cationic antimicrobial peptides/ CAMPs) diproduksi oleh hampir semua makhluk hidup dan merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh bawaan.

Menurut Berty, hasil riset zat antimikroba dalam darah Komodo itu diterbitkan oleh American Chemical Society (ACS) melalui Journal of Proteome Research. American Chemical Society (ACS) adalah organisasi nirlaba dari Kongres Amerika Serikat yang beranggotakan 157.000
orang dan menyediakan aksespenelitian kimia, database, jurnal dan seminar ilmiah. Kantor pusatnya beralamat di Washington, D.C., dan Columbus, Ohio, Amerika Serikat.