BREAKINGNEWS.CO.ID - Event Jogja International Heritage Walk (JIHW) 2018 menunjukkan kelasnya. Digelar 17-18 November 2018, kegiatan ini diikuti sedikitnya 3.500 peserta. 350 orang di antaranya peserta mancanegara dari 25 negara.

Tahun ini JIHW bertema The 10th Jogja International Heritage Walk 2018 : Save the Nature, Respect the Culture, Jogja to the World. Event ini akan digelar dalam tiga rute, yakni 5 km, 10 km dan 20 km. Para peserta akan diajak menjelajah beragam keunikan Jogja. Dari mulai sejarah, budaya, hingga masyarakatnya. "JIHW merupakan sebuah perhelatan internasional yang memadukan olahraga jalan kaki dengan penjelajahan wisata," ujar Menpar Arief Yahya, Selasa (13/11/2018).

Sebagai sebuah atraksi wisata, eksistensi JIHW sudah tidak terbantahkan. Event ini rutin digelar setiap tahunnya. Bahkan, pelaksanaan tahun ini sudah memasuki satu dekade. Pada hari pertama, di area Candi Prambanan akan disajikan beragam seni budaya. Pada pukul 06.00 WIB di Candi Brahmana, akan ada sesi cucuk lampah oleh Gedruk Lampah Buto. Lalu selama perjalanan, para peserta akan disuguhi berbagai hiburan menarik seperti pertunjukan akustik musik tradisional, wayang wong di area Candi Sari dan rencananya akan ada tari topeng pedalangan. "Event tahun ini dijamin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. JIHW telah terpilih menjadi One of 100 Best National Event Kementerian Pariwisata," ujar Menpar Arief Yahya.

Untuk itu beragam hal baru pun dipersiapkan untuk memanjakan para peserta. Salah satunya dengan menghadirkan rute baru pada perhelatan tahun ini. "Ada rute baru yang kita hadirkan untuk hari kedua. Rutenya di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Kita akan ajak peserta mengelilingi enam desa wisata yang unik. Yakni Desa Pancoh, Desa Kelor, Desa Nanggring, Desa Tunggul Arum, Desa Pule Sari dan Desa Garongan," ujar Wakil Ketua Pelaksana JIHW, Dahlia Puspasari.

Di rute baru ini, peserta diajak jalan kaki singgah di Desa Nanggring. Peserta bisa menikmati susu kambing etawa gratis. Begitu juga saat singgah di Desa Pulesari, akan pertunjukan musik instrumental tradisional dan gunungan salak. "Sedangkan di Desa Kelor peserta akan diajak menengok sebuah tempat bersejarah bernama Joglo Kelor. Sebuah tempat perlindungan saat masa Perang Diponegoro yang dibangun sejak 1835," ungkap Dahlia.

Untuk lebih menghebohkan, panitia juga telah menyiapkan sejumlah sub event. Seperti edukasi jamu oleh Wilwatikta, senam zumba dan cek kesehatan gratis oleh Rotary Club of Yogya Tugu, Fun bike 10km gratis, Lomba mewarnai dan lomba melukis payung bersama komunitas Omah Parenting. "Ada juga board game AR (Augmented Reality) bersama komunitas Sebangku, edukasi dan workshop Taman Siswa Ki Hajar Dewantara bersama Sariswara Club. Ada juga games dolanan anak, edukasi lingkungan hidup dan donasi bibit pohon bersama Greentech Universitas Pembangunan Nasional (UPN), serta festival makanan dan barang-barang organik oleh Komunitas Organik Indonesia," tambah Dahlia.

Plt Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan, JIHW menjadi salah satu event yang mampu menggerakkan secara optimal wisman. "JIHW menjadi salah satu upaya lebih untuk mencapai target wisman di tahun 2018. Event ini layak masuk kedalam 100 Wonderful Events Indonesia 2018 Kemenpar," ujar Giri Adnyani didampingi Kabid Pemasaran I Regional I Kemenpar, Wawan Gunawan.

Giri Adnyani juga memuji eksistensi event JIHW ini. Mempertahankan event tahunan selama satu dekade merupakan sebuah prestasi luar biasa. "Eksistensinya luar biasa. Apalagi mampu mengundang wisatawan datang, termasuk juga wisatawan mancanegara. Atraksi yang ditampilkan pun selalu dipoles sehingga memanjakan wisatawan," pungkasnya.

Wawan Gunawan menambahkan, kegiatan ini sekaligus meresmikan rute Permanent Walk 10 km standar route IVV (International Volksport Verband). Acara ini akan diikuti oleh ketua dan jajaran organisasi IVV atau Internasional Federation of Popular Sport dan 150 delegasi pejalan kaki internasional yang hadir dalam acara ini.  "Kemudian acara dilanjutkan dengan konggres IML-IVV di hotel Harper Mangkubumi. Kongres untuk membahas kelanjutan tentang organisasi dan Asian Piad. Ini berarti sekaligus menggairahkan wisata MICE Meeting, Incentives, Conferences, and Exhibition)," ujar Wawan.