BREAKINGNEWS.CO.ID - Untuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebisa mungkin memperbaiki dan membuat beberapa venue atau arena pertandingan, salah satunya Jakarta International Equestrian Park Pulomas (JIEPP) atau arena berkuda.

Presiden Direktur PT Pulomas Jaya Bambang Nursalim mengklaim arena berkuda sudah siap digunakan dalam Asian Games, di mana ada sebanyak 120 ekor kuda dari 20 negara yang bakal ikut berkompetisi.

Saat ini memang kuda belum tiba namun sehingga kondisi kandang masih kosong, kalaupun sudah datang tidak bisa langsung diletakan ke Equestrian tapi dimasukan karantina di Cinere, Depok-Jawa Barat.

“Kuda (dari) Eropa 10 Agustus. Kuda dari Asia udah datang tapi enggak boleh ke sini tapi di karantina ada di Cinere, Depok,” ujar Bambang di Equestrian, Jakarta Timur, Kamis (2/8/2018).

Untuk perawatannya dan kesehatannya sendiri, tidak bisa dipungkuri akan mendapatkan kelas istimewa, melihat harga satuan ekor kuda yang dibandrol hingga mencapai ratusan miliar. Selain perawatannya, untuk mendapatkan izin pembangunan Equestrian pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta butuh kerja keras hingga pada akhirnya izin bisa dikantongi.

“Harganya bervariasi, saat ini yang dipake Qatar Rp6 juta euro atau setara Rp200 miliar satu ekornya,” kata Konsultan Teknis Pembagunan Equestrian Venue Asian Games Rafiq Radinal.

Rafiq menceritkan kondisi kandang kuda itu nantinya akan diberikan cairan disinfektan untuk menghindari adanya pertumbuhan kutu yang bisa berpindah pada kuda. Selain berikan disinfektan, juga akan ada petugas penjaga yang akan setiap saat mengangkat kotoran dari kuda, jadi kuda itu tidak akan menginjak kotorannya sendiri.

“Posisi ini sama kondisinya dengan di Eropa. Jadi kuda-kuda di Eropa bisa langsung masuk, bisa kembali langsung ke negaranya. Ini faktor terbesar bahwa DKI bisa diakui dunia, karena posisi Pulomas sama dengan di Eropa. Kuda-kuda dari Eropa bisa langsung masuk dan keluar,” terangnya.

Tidak hanya itu saja, kuda dengan harga ratusan miliar itu juga disediakan tumpukan jerami khusus yang sudah melalui tahap pengelolaan sehingga tidak bisa berdebu dan urine dari kuda sendiri langsung terserap tanpa mengenai alas dari kandang. Untuk minumnya, pengelola sudah membuatkan water treatment atau air olahan yang diambil dari danau lalu dimasukan dalam botol otomatis.

“Jadi urinenya enggak sampe turun ke bawah, kalaupun turun sudah disediakan drainasenya. Jadi kita sudah meminimalisir semua kesiapan,” tutur Rafiq.