JAKARTA – Bulan Ramadan 1439 H yang bertepatan dengan Mei-Juni 2018 ini diawali oleh serangkaian peristiwa luar biasa yang secara langsung menusuk jantung dan perasaan umat Islam Indonesia. Deretan peristiwa, mulai dari kerusuhan di Mako Brimob, aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, serta penyerangan markas polisi di Riau, yang semuanya terjadi secara beruntun kurang dari satu minggu sebelum bulan haram ini dimulai, secara langsung melukai perasaan ummat yang tengah bersiap menyambut bulan mulia ini.

Perasaan terluka itu dirasakan, karena semua pelakunya adalah mereka yang mengaku Islam, dan berjuang atas nama Islam, namun cara yang dijalani jauh dari ajaran Nabi.
Akibatnya, semuanya memasuki gerbang bulan mulia ini dengan perasaan campur aduk. Perhelatan yang semestinya disambut dengan suka cita, berubah menjadi duka lara.
Padahal, sebagai ritual massif yang diikuti oleh hampir seluruh rakyat, Ramadan sejatinya telah menjadi sebuah festival. Disebut festival, karena semua lapis masyarakat ikut bersuka cita menyambut bulan yang dipercaya memberi rahmah dan keberkahan untuk semua.

Semua ikut merasa gembira, termasuk sahabat dan rekan yang berkeyakinan lain. Semuanya taka da yang merasa terganggu dengan aktifitas yang sedikit banyaknya akan menguras tenaga, karena sejumlah larangan yang harus diikuti, demi sempurnanya proses ibadah ini.

Lalu, apakah mereka para pelaku itu masih bisa kita sebut sebagai saudara sekeyakinan, dan berhak ikut merayakan karena mereka juga percaya dan melakukan ibadah yang masuk klasifikasi salah satu kewajiban utama dalam beragama ini?

Padahal, kebencian lah yang membuat mereka bertindak nekad, hingga menghilangkan nyawa yang taka da hak mereka untuk melakukannya.

Secara kasat mata, kita memang melihat mereka adalah orang yang satu keyakinan dengan mayoritas umat yang saat ini sedang bergembira dengan datangnya bulan puasa. Tapi secara sosial, mereka bukan lah bagian dari ummat Nabi Muhammad. Karena yang mereka lakukan sama sekali jauh dari prinsip-prinsip dasar yang diajarkan oleh Manusia Agung tersebut. Serta deretan ayat-ayat yang berserak di dalam kitab suci.

Agama ini mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, penghormatan kepada setiap yang bernyawa, termasuk nyawa sendiri. Adapun konsep pengagungan tuhan dengan memaksakan aplikasi hukum-hukum Nya di muka bumi adalah masalah tafsir yang masih harus diuji kebenarannya. Namun semua pupus dengan ajaran kebencian yang entah darimana mereka tuai.

Karena Al-qur’an yang sedemikian luas, tak boleh dipersempit dalam tafsir mutlak berwarna kebencian, sekaligus menganggap pihak yang berbeda sebagai lawan yang harus dilenyapkan.

Tindak ekstrim dan jauh dari keadilan, yang dilakukan sebagian kalangan tersebut sejatinya telah mencederai agama ini, karena tindakan tersebut sejatinya melawan ayat dalam kitab suci, seperti yang berikut,

“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[2]agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.


Sekarang, tugas kita umat mayoritas yang masih sadar bahwa festival Ramadan, khususnya tahun 1439 H adalah bulan berkah, menjadikannya kembali seperti yang selama ini terjadi.

Kembali menjadi bulan gembira, ajang panen pahala, dengan berbuat baik kepada sesama. Hapus kebencian yang salah kaprah tersebut dengan amalan sosial.
Karena Ramadan adalah festival dan waktunya mendapat pahala lebih mudah dibanding bulan-bulan lainnya, bukan sebaliknya, menebar kebencian, atau terror kematian. Karna Allah dan Rasulnya sejak awal sudah menjamin, Ramadhan adalah juga bulan penuh berkah dan ampunan.