BREAKINGNEWS.CO.ID – Steve Robertson yang tak lain merupakaan menejer pribadi Kimi Raikkonen menjelaskan alasan utama, mengapa pembalapnya memutuskan tetap meneruskan karier balapnya di Formula 1 hingga 2020 mendatang, setelah menyetujui kontrak kerjasama barunya bersama Sauber usai dilepas oleh tim Ferrari pada akhir musim ini.

Raikkonen, yang akan merayakan ulang tahun ke-39 bulan depan, menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan tim tempat ia melakukan debut F1 pada 2001. "Kimi ingin membalap dengan mobil F1, ia menyukainya," ungkap Robertson. "Orang-orang terkejut dengan keputusan itu. Karena dia sudah lama membalap untuk Ferrari, jadi mereka mengira dia akan pensiun, bersantai di kapal yacht miliknya, dan menikmati sisa hidupnya.

"Tapi dia senang membalap mobil F1, itu membuat dia bersemangat. Kimi suka dengan tantangan. Andai dia tidak melakukan ini, dia ingin mengendarai motocross. Tapi baginya, F1 adalah puncak. Begitu dia tahu sudah tidak mungkin untuk tetap di Ferrari, ia ingin membuat perjanjian [dengan tim lain]. Menurut saya Anda harus melihat situasi di Sauber. Sekarang mereka punya beberapa penyokong,” buka Robertson, dikutip Motorsport.com.

"Dua tahun lalu, apakah ia bersedia pindah ke tim yang bersusah payah bertahan di F1? Yang pertama, mereka bahkan tidak punya cukup dana untuk merekrutnya. Dan yang kedua, mereka bagaikan kapal yang siap tenggelam. Sekarang, mereka berani mengambil Kimi, salah satu bintang di F1 dan seorang juara dunia. Itu menunjukkan ambisi mereka, dan target apa yang ingin dicapai berikutnya. Mereka bisa saja memilih pembalap yang punya sokongan dana. Tapi pada akhirnya, kedua belah pihak punya keinginan yang sama. Dia ingin membantu mereka," ia membeberkan.

Robertson yakin Raikkonen tidak akan frustrasi sepanjang dua musim ke depan karena membalap untuk tim yang tidak bisa bersaing memperebutkan kemenangan. "Secara pribadi, saya pikir itu tidak akan terjadi. Karena ia akan berusaha bekerja sama dengan tim untuk mencoba meningkatkan performa. Secara realistis dia juga tahu apa yang akan ia hadapi. Sebenarnya ia tidak perlu melakukannya, tapi dia merasa bisa membantu mereka,” kata Robertson.

"Saya pikir Anda punya pandangan yang berbeda. Sekarang jarak ke tim-tim unggulan telah membesar. Jika Anda berkata kepada saya bahwa saya akan merebut peringkat ketujuh [di klasemen] untuk dua tahun berikutnya, maka saya akan menerimanya. Karena itu sudah hasil yang terbaik. Kita harus realistis, dan ia bangga dengan itu, karena ia akan membantu mereka berkembang. Dia sudah sadar bahwa peluang untuk menang hampir mustahil, kecuali balapan berjalan kacau. Tapi dari segi perkembangan, dia merasa punya sesuatu untuk ditawarkan,” jelasnya.

“Ia tahu bahwa ini akan menjadi peran yang berbeda dibanding di Ferrari. Pengetahuan yang dimiliki Kimi, dan fokusnya pada pengembangan, dia merasa bisa membawa mereka ke tempat yang diinginkan dalam waktu yang lebih singkat," paparnya.

Robertson membandingkan situasi Sauber dengan masa-masa Raikkonen di Lotus, di mana ia mendapat kebebasan yang lebih banyak ketimbang saat di McLaren atau di Ferrari. "Orang-orang bilang kepada saya bahwa mereka menilai Kimi lebih rileks waktu itu [di Lotus]. Saya ingat perkataan Boullier dulu, 'Kami tidak menuntut banyak-banyak dari Kimi, kami sadar apa yang membuatnya senang dan apa yang tidak, jadi kami membebaskannya. Jadi dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Di tim-tim seperti Ferrari, di sana lebih seperti struktur korporat, dan berbeda," Jelas Robertson.