BREAKINGNEWS.CO.ID -   Tak hanya mengancam keutuhan  pluralism sebuah bangsa,  ideologi radikal  atau radikalisme juga  bisa merusak independensi perempuan. Menurut  ketua Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP) Musdah Mulia, pemahaman tersebut bisa secara perlahan bisa berkembangan menjadi bahaya laten karena akan membatasi hak dan kebebasan perempuan.

 "Ideologi radikalisme berupaya untuk mengontrol tubuh perempuan secara lebih masif lagi," kata dia saat acara Revitalisasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindugnan Anak (KPPPA) untuk Cita-Cita Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Ideologi radikalisme juga secara diam-diam telah menjalar dalam pikiran masyarakat luas, hal itu dapat dilihat dari semakin banyaknya peraturan daerah yang tidak hanya mengatur soal busana tetapi juga mengatur soal ketaatan penganut agama.

Pemahaman secama ini,  seperti dikutip dari laman Antaranews.com, akan menghancurkan pilar-pilar demokrasi, Pancasilia dan Undang Undang Dasar 1945 yang selama ini dianut oleh Bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, dia berharap pemerintah ke depan, terutama menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga mampu untuk menyelesaikan masalah radikalisme terebut.

"Radikalisme berupaya menghancurkan kemandirian perempuan, oleh sebab itu Kementerian PPA menjadi ujung tombak agar radikalisme tidak menyasar perempuan," kata dia.

Saat ini, kata dia radikalisme telah menggunakan perempuan sebagai aktornya karena perempuan adalah kelompok yang memiliki loyalitas tinggi. Dengan mengokupasi perempuan, maka telah menguasai setengah penduduk Indonesia.

"Oleh sebab itu menteri yang menjabat haruslah yang mau bertarung bukan hanya sekadar duduk manis. Menteri yang menjabat harus dapat menyelamatkan Indonesia dari radikalisme," kata dia.