BREAKINGNEWS.CO.ID – Terkait dengan komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut kalau Arab Saudi tidak bisa bertahan hidup tanpa AS, Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman memberikan tanggapan. Pangeran yang dikenal dengan inisial MBS itu menuturkan dia sangat senang bekerja sama dengan Trump, dan memberikan pujian pada hubungan dua negara. Dilansir Bloomberg via Al Jazeera Jumat (5/10/2018). MBS berujar AS serta Saudi sudah mencapai banyak keberhasilan di Timur Tengah.

Antara lain melawan ekstremisme, ideologi ekstrem, terorisme, hingga kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Pangeran berusia 33 tahun itu mengaku maklum apabila sebagai sekutu, AS bisa menyuarakan ketidaksetujuan. "Kadang seorang teman tidak bisa 100 persen setuju dengan pendapat kita," terang dia.

Akan tetapi, dia tidak sepakat apabila Trump menyebut Saudi tidak akan bertahan lama apabila tidak mendapatkan bantuan dari Negeri "Paman Sam". Dilansir Russian Today, pangeran yang menjabat sebagai wakil perdana menteri itu menuturkan Kerajaan Arab Saudi berdiri lebih lama dari AS.

"Dibutuhkan waktu hingga 2000 tahun sebelum kami mendapatkan bahaya besar. Jadi, kami tidak akan membayar apapun untuk keamanan kami," tegas dia. Tidak hanya itu, dia menyoroti segala perubahan yang terjadi di AS bakal mendapat konsekuensi besar. Dia menyebut Perang Sipil yang terjadi 1861-1865.

"Di AS, upaya untuk menghapus perbudakan malah menimbulkan perang saudara yang membagi negara itu selama beberapa tahun," papar dia. Sementara di Saudi, MBS menjelaskan dia berusaha untuk mengenyahkan terorisme tanpa menghalangi pertumbuhan ekonomi maupun menimbulkan korban jiwa.

Sebelumnya ketika berkampanye untuk pemilu sela di Southaven, Mississippi, Trump berujar bahwa mereka melindungi negara kaya minyak tersebut. Presiden berusia 72 tahun itu menyatakan dia sempat menelepon Raja Salman untuk membicarakan pasokan minyak dunia pekan lalu walaupun dia tidak menyampaikan kapan persisnya.

Dia berkata, dia sangat menyukai Raja Salman. Akan tetapi, dia meminta sang raja untuk membiayai militernya. "Anda tidak bisa bertahan lebih dari dua pekan tanpa kami," ujar dia kala itu. Trump kembali menggembar-gemborkan peran AS saat berpidato di hadapan pendukung Partai Republik di Minnesota Kamis (4/10).

Mantan pembawa acara The Apprentice tersebut menceritakan Riyadh harus membayar lebih untuk sektor pertahanannya. "Saya bertanya 'Permisi Raja Salman, apakah Anda tidak keberatan membayar?' Kemudian dia sepakat untuk menaikkan kontribusinya," terang Trump.

Komentar presiden 72 tahun itu direspon Iran melalui Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif yang berujar, Washington sudah mempermalukan Saudi. Dalam kicauannya di Twitter, dia mengusulkan sebuah tindakan langka dengan mengajak rival Timur Tengah itu untuk bekerja sama. "Kami sekali lagi menawarkan kepada negara tetangga kami. Mari bergandengan tangan untuk memperkuat kawasan, dan menghentikan kesombongan ini," ujar Zarif.