BREAKINGNEWS.CO.ID - Puluhan kilogram ganja disinyalir telah beredar di sejumlah kampus Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Jakarta . Sejumlah mahasiswa disinyalir menjadi pengedar dan pengecer.

Hal itu terungkap setelah Satnarkoba Polres Metro Jakarta Barat mengamankan 11 kilogram ganja di salah satu kampus swasta di jalan Taman Malaka Selatan RT 08/06, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (23/7/2019) lalu.

“Total semuanya ada 80 kilogram ganja yang turun. 12 kilo sudah kami amankan, sisanya sudah beredar di sejumlah Perguruan Tinggi di Jakarta,” jelas Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Erick Frendriz, Senin (29/7/2019).

Sebelumnya, dua mahasiswa berinisial, TBW, 23, dan PH, 21, diamankan Satnarkoba Polres Metro Jakarta Barat. Keduanya diamankan usai tertangkap tangan menyimpan 11 kilogram ganja di lingkungan salah satu kampus di kawasan Jakarta Timur itu.

Selain mengamankan keduanya, lanjut Erick, pada Senin (29/7/2019) dini  hari, pihaknya  juga telah menahan tiga orang lainnya, HK, 27, AT, 27, dan FF, 31 di jalan Cipta Utara Blok G, RT 07/11, Bintara, Bekasi Barat, Bekasi. Dari itu polisi mengamankan sekilo lebih ganja.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Erick mencatat 80 kg ganja itu tersebar hampir di sejumlah wilayah di Jakarta, yakni 39 kilogram di Perguruan Tinggi di Jakarta Barat dan 19 kilogram di dua kampus Jakarta Selatan. Sedangkan sisanya tersebar di puluhan kampus lainnya, termasuk di Jakarta Timur. “Saat ini pengecer dan pengedar di lingkungan kampus masih kami buru. Sejumlah nama kami kantongi dan kami akan tindak,” tegas Erick.

Manfaatkan Lingkungan

Erick mengakui penggrebekan yang dilakukan pihaknya di lingkungan kampus bukanlah perkara mudah. Pandangan masyarakat yang melarang polisi masuk kampus membuat pihaknya kesulitan mengungkap jaringan ini.

Padahal, peredaran ganja di lingkungan kampus bukanlah hal yang baru. Track record jaringan ini telah mengakar ke sejumlah mahasiswa. Bahkan tercatat dalam dua bulan sejumlah ganja masuk ke Perguruan Tinggi di Jakarta.

“Parahnya mereka tak ada rasa takut memakai ganja di taman di Kampus,” ucapnya.

Karena itu, saat penggrebekan dilakukan, Erick mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan pihak rektorat. Penggrebekan dan penangkapan dua pelaku dimonitoring langsung oleh pihak rektorat. Hasilnya 11 kilogram ganja itu ditemukan di salah satu lemari di lingkungan kampus.

Meski demikian Erick tak merinci apakah ganja itu di taruh di bagian Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau tidak. “Yang pasti ada dilingkungan kampus. Tak etis menyebutkan dimana tempatnya, apalagi nama kampusnya,” ucapnya.

Dari penggrebekan itu, satu dari dua pelaku yang diamankan pihaknya tengah mengkonsumsi ganja. Selinting ganja sisa pakai yang dilinting roko kretek ikut diamankan polisi.

Termasuk saat transaksi jual beli. Erick mengatakan pelaku tak mau bertransaksi diluar kampus, dengan alasan keamanan. Hal ini membuat pembeli TBW terpaksa masuk kampus untuk mengambil barang.

“Ini tak berlaku hanya pada mahasiswa, tapi masyarakat umum yang mau membeli juga bisa. Asalkan ikuti aturan pelaku,” ucapnya.

Mahasiswa Berprestasi

Mirisnya dalam penggrebekan itu, Erick mengatakan satu pelaku berinisial TBW, merupakan mahasiswa berprestasi. Selain tercatat dengan hasil akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) diatas 3.

TBW merupakan mahasiswa aktif dilingkungan kampus, ia menjabat sebagai Kepala Bagian Umum di organisasi kampus.  “Ini menarik bagi kami. Karena pelaku sejati menjadi contoh bagi rekan rekannya,” timpal Erick.

Meski telah mengamankan dan memeriksa pelaku. Namun Erick masih mendalami motif TBW mengedarkan ganja. Sebab, dari hasil profiling yang dilakukan. TBW bukan dari golongan ekonomi kurang mampu. Keluarganya merupakan kelompok ekonomi berkecukupan, terlebih dia merupakan mahasiswa cerdas.

Lepas dari itu, Erick menyakini konsumsi ganja yang dilakukan TBW bertahun tahun membuat dirinya terjun dan terjebak dalam peredaran ganja. Jaringannya kemudian mengakar dan tersebar di sejumlah kampus lainnya.

“Barangnya tergantung pesanan. Kalau seandainya penjualan bagis, biasanya pengecer akan meminta tambahan pasokan,” ucapnya.

 

Dari Jakarta Barat

Kanit 3, AKP Ahmad Ardhy yang mengungkap kasus itu mengatakan terbongkarnya kasus ini setelah pihaknya melakukan penyidikan selama dua bulan. Berawal dari informasi masyarakat tentang adanya puluhan kilogram ganja yang beredar, polisi mengamankan satu pemakai di salah satu PT swasta di Jakarta Barat.

“Awalnya informasi biasa. Kamudian kami telusuri dan mengamankan satu pemakai,” ucapnya.

Dari situ, kata Ardhy pihaknya langsung mengembangkan kasus ini. Dua pelaku kemudian diamankan setelah pihaknya berpura-pura jadi pembeli.

Saat melakukan itu, Ardhy sempat dibuat kesal lantaran pelaku enggan bertransaksi di luar kampus. Dengan berat hati, ia kemudian mendatangi kampus dan mengamankan pelaku.

Dari situ Ardhy, yang menerjunkan anggotanya dibuat tercengang lantaran di kampus itu konsumsi ganja tak lagi aneh. Banyak mahasiswa usai kuliah menongkrong di taman kampus untuk menghisap ganja.

“Bahkan saat kami mau mengambil barang, pelaku sempat menunjukan tempat penyimpanan ganja dan memperlihatkan bungkusan ganja,” ucapnya.