BREAKINGNEWS.CO.ID - Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) tak mau mengomentari pertemuan Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) dengan Asprov PSSI dan beberapa perwakilan liga. Adapun pertemuan itu sejatinya tak lepas dari kasus-kasus pengaturan skor yang terjadi belakangan ini di sepak bola tanah air. "Saya no comment," kata Sekretaris jendral PSSI, Ratu Tisha saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

KPSN dan sejumlah votters PSSI menggelar pertemuan di salah satu hotel di Jakarta, Rabu (9/1). Acara tersebut mengusung tema "Menuju Sepak Bola Bersih, Berprestasi, dan Tanpa Mafia". Dari daftar buku tamu, ada 12 Asosiasi Provinsi (Asprov), dua Asosiasi Kota (Askot), dan enam klub Liga Indonesia yang hadir. 12 Asprov tersebut meliputi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Utara, Lampung, Gorontalo, Jawa Barat.

Sementara dua Askot yang hadir adalah Jakarta Timur dan Depok. Sedangkan enam klub yang datang yaitu Madura FC, Aceh United, Persiraja Banda Aceh, Persika Karawang, PSIM Yogayakarta, dan Persiwa Wamena. Salah satu aduan muncul dari CEO Persijap Jepara, Esti Lestari, yang timnya kini main di Liga 3. Ia menceritakan pengalamannya tiga tahun sebagai petinggi klub. Sebelum timnya memulai kompetisi, para pemain dan manajemen membuat perjanjian agar tidak terima suap.

"Kami dulu sangat pede bakal lolos. Tapi itu bumerang. Lalu pada akhirnya kami kalah terus, sekalipun lawan tim yang di bawah kami. Terus saya tanya kepada pemain dan mereka bilang: 'saya sudah capek main buat klub ibu. Abisnya ibu enggak pernah bayar wasit. Kita dikerjain mulu'. Nah, di Liga 3 saya lebih kalem. Terus saya dibilang kalau mau lolos sudah tenang saja. Ikuti aturan main," kata dia.

Penuturan Esti disambung oleh perwakilan klub Liga 2, Persika Karawang, Gunadi. Ia mengatakan bahwa kasus yang dialami Persijap juga dialami oleh Persika hingga berujung degradasi. Kendati demikian, Gunadi enggan merinci persoalan yang dialaminya. Gunadi malah memilih untuk membicarakan praktik pengaturan skor yang mestinya dibongkar secara terang-terangan. Menurutnya, ditangkapnya dua anggota PSSI, Johar Lin Eng dan Dwi Irianto, oleh Satgas Anti-Mafia Bola sudah menjadi alarm tanda bahaya bagi sepak bola nasional.

''Keterlibatan Exco (Johar Lin Eng) dalam aksi pengaturan skor ini sudah luar biasa mencoreng sepak bola kita. Apalagi anggota Komdis PSSI (Dwi Irianto) yang selalu menghukum klub dengan denda, denda, dan denda, yang tidak tahu arahnya ke mana, juga ikut terlibat. Jadi saya kira dengan adanya diskusi ini, mari dari voter-voter yang hadir suarakan perubahan. Kalau perlu PSSI dibubarkan saja, kenapa mesti takut? Saat ini kan KPSN ada di belakang Polri, ayo dukung dan suarakan,'' kata Gunadi.

Selanjutnya, dari pertemuan itu muncul dua kesimpulan untuk dibawa ke Kongres PSSI pada 20 Januari 2019 yang dibacakan langsung oleh Esti yaitu:

1. Mengusulkan agar anggota komite eksekutif PSSI dan pengurus PSSI yang menjadi tersangka kasus match fixing untuk dipecat dengan tidak hormat di Kongres PSSI 2019.

2. Mendorong satuan petugas antimafia bola polri untuk memberantas secara tuntas praktek match fixing melalui penegakkan hukum yang adil tanpa pandang bulu sesuai dengan kesetaraan dalam hukum.

Dalam pertemuan yang berlangsung empat jam itu, turut hadir Asprov PSSI DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Riau, Sulawesi Tenggara, Lampung, Gorontalo, dan perwakilan klub Madura FC, Aceh United, dan Persiraja Banda Aceh.