BREAKINGNEWS.CO.ID – Terkait dengan kebijakan imigrasi keras yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ribuan warga AS melakukan demo dengan turun ke jalan di kota-kota besar AS untuk melawan kebijakan tersebut. Mereka juga menuntut reunifikasi keluarga yang terpisah di perbatasan dengan Meksiko, Minggu (1/7/2018).

Tepat di seberang Gedung Putih, para demonstran memenuhi alun-alun Taman Lafayette dengan suasana sedih dan marah, sebelum menuju ke Capitol Hill. Kerumunan demonstran juga dapat dilihat di Boston, Chicago, Los Angeles, New York, dan Portland. Para selebritas juga ikut dalam demo ini mulai dari Alicia Keys serta Lin-Manuel Miranda yang muncul di Washington dan John Legend di Los Angeles.

"Kami tidak percaya perbatasan, kami tidak percaya pada dinding," kata Sebastian Medina-Tayac, dari Suku Piscataway, Indian, menggunakan bahasa Inggris dan Spanyol dalam demo yang diberi nama "Families Belong Together" atau "Keluarga Saling Memiliki." Pengeras suara menyiarkan suara tangisan seorang anak yang terpisah dari kerabatnya, ketika seorang Ibu asal Brazil bercerita tentang ia terpisah dari putranya.

"Aku melewatkan sembilan bulan hadir dalam hidupnya dan itu seharusnya tidak pernah terjadi," Kata wanita tersebut yang hanya menyebutkan namanya Jocelyn. Kasusnya sudah lama sebelum praktik pemisahan keluarga yang intensif pada bulan Mei. "Malu! Malu!" teriak kerumunan demonstran dengan suhu diatas 33 Celcius.

Presiden tidak dapat mendengar teriakan dari para demonstran, dikarenakan Trump berada di Bedminster, New Jersey di Trump National Golf Club untuk menghabiskan harinya. Di sana juga, para pengunjuk rasa berkumpul di jalanan tersebut dengan papan bertuliskan tentang kebijakan imigrasi Trump. "Orang yang mencari tempat perlindungan bukanlah penjahat," kata salah satu papan tersebut.

Tweet Trump

Trump menggunakan twitter-nya untuk membela kebijakan imigrasinya. "Ketika orang-orang datang ke Negara kita secara ilegal, kita harus segera membawa mereka keluar tanpa melalui prosedur yang legal selama bertahun-tahun," tulis Trump melalui Twitter-nya. "Hukum kita paling bodoh di dunia ini. Partai Republik mengiginkan perbatasan yang kuat serta tidak ada kejahatan, sedangkan Demokrat ingin perbatasan yang terbuka akan tetapi lemah terhadap kejahatan!" imbuhnya.

Dimulai pada awal Mei, dalam upaya untuk menghentikan arus puluhan ribu imigran setiap bulan ke perbatasan di sebelah Selatan AS, Trump memerintahkan penangkapan orang dewasa yang melintasi perbatasan dengan cara ilegal, termasuk juga mereka yang mencari tempat pengungsian. Banyak yang mencoba menyeberangi perbatasan AS-Meksiko adalah orang miskin, melarikan diri dari kekerasan para geng dan kekacauan lainnya di Amerika Tengah.

Akibat dari tindakan keras Trump, anak-anak yang putus asa dipisahkan dari keluarga mereka, menurut foto-foto yang disebarkan secara luas, anak-anak tersebut di kurung yang dipagari dengan rantai, memicu kemarahan di dalam negri dan global. Sekitar 2.000 anak-anak terpisah dari orang tua mereka, menurut angka resmi yang dirilis akhir pekan lalu. Trump kemudian menandatangani perintah yang mengakhiri pemisahan keluarga, tetapi pengacara imigrasi mengatakan proses penyatuan kembali anak-anak dan orang tua mereka akan memakan waktu yang panjang dan rumit.