BREAKINGNEWS.CO.ID - Pemerintah mulai melonggarkan sejumlah aturan pembatasan berkumpul masyarakat di tempat umum seperti Mall dan gedung pertemuan serta rumah ibadah, meski tetap dengan menerapkan aturan serta protokol kesehatan yang berlaku guna  menekan laju sebaran virus corona atau Covid-19 itu. Namun pelonggaraan tersebut belum sepenuhnya berlaku untuk salah satu lokasi yang terkena pembatasan yakni pemutaran film di gedung bioskop. Hingga hari ini, pemerintah belum memberi izin kepada pengelola untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Kendati belum dapat kepastian, namun sebagian dari para insan film tanah air khususnya produser dan bidang promosi sudah mulai bersiap dan ambil ancang-ancang jika kebijakan pelonggaran dikeluarkan. Sembari menunggu izin pelonggaran diberikan, mereka mulai memikirkan strategi  promosi seperti apa yang hendak diambil guna mengajak para penonton kembali menyambangi bioskop. Untuk itu panduan protokol kesehatan yang menjadi wewenang pemerintah untuk diikuti yang masih ditunggu hingga saat ini. Karena dari panduan dan protokol baru itulah mereka bisa membuat strategi yang dinilai pas dan akan mampu mengembalikan kepercayaa penggemar film Indonesia untuk kembali ke bioskop.
 
Demikian pendapat yang mengemuka dalam Webinar yang diadakan oleh Demi Film Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Film, Musik dan Media Baru Kemdikbud, Jum'at (26/6/2020) siang. Temu muka virtual dengan  dengan tema "Menyiasati Promosi Film Nasional" ini menghadirkan pembicara Direktur Film, Musik dan Media Baru Kemdikbud Ahmad Mahendra, pengusaha bioskop rakyat dan produser film Marcella Zalianti, aktris senior Niniek L Karim, Marketing Director Jaringan Bioskop CGV Blitz Dian Sunardi, Publicist Film Aris Muda, sutradara film Harry Dagoe Suharyadi, dan Direktur Balai Pustaka Dewananda.

Menurut Ahmad Mahendra, surat dari Kementerian Kesehatan untuk kegiatan perfilman sudah keluar, terutama untuk kegiatan syuting. Namun pelaksanaan teknisnya masih menunggu protokol kesehatan. Yang masih dilakukan saat ini adalah proses pengeluaran Surat Keputusan Bersama (SKB) oleh empat   lembaga yakni Kemendimbud, Kemenparekraf, Kemenkes dan Kemendagri.

"Kalau SKB sudah turun akan sosialisasi ke Pemda. kalau ada yg syuting di daerah jangan dioyak oyak, ijin syuting tetap ada di Pemda. Kalau Pemda blm mengijinkan, ya jangan syuting. Sama dengan bidang lainnya, pihak ekshibitor (bioskop) juga masih menunggu aturan yang dibuat oleh pemerintah. Sama ketika CGV ditutup, itu memgikuti anjuran pemerintah. Kapan akan dibuka, juga menunggu surat dari pemerintah. Tentunya sesuai konsep new normal. Kita mengikuti protokol kesehatan," kata Marketing Director CGV Blitz Dian Sunardi Munaf.

Menurut Dian, dalam konsep new normak tidak mungkin bioskop mengisi 100 persen dari kapasitas. Bagi bioskop menurutnya yang penting adalah memberi rasa percaya diri kepada pencinta film untuk datang ke bioskop.

"Berapa harga tiket akan dijual nanti, sangat dinamis. Tergantung banyak dan sedikitnya penonton atau content filmmya. Sampai saat ini belum ada line up film yg akan diputar baik film impor mauoun film nasional. Kalau bioskop belum mendapat film baru, kami akan rerun, dengan harga yang disesuaikan," kata Dian.

Untuk mengembalikan minat penonton ke bioskop, timpal pengelola bioskop rakyat Indiskop, Marcella Zalianti, perlu dilakukan promosi perlu bersama-sama seluruh stakeholder perfilman dan pemerintah.

"Insan perfilman dan kreatif harus memutar otak agar perfilman berlangsung. Kita perlu menjaga ekosistem perfilmam dengan konsep gotongroyong. Dukungan pemerintah juga sangat diperlukan," ucap Marcella.

Semwntara itu, Aris mantan wartawan yang kini banyak menangani promosi film, Aris Muda mengatakan, promosi film di mada pandemi ini harus melibatkan banyak pihak, terutama terkait dengan protokol kesehatannya.

Bila promosi dilakukan langsung di bioskop dengan mengundang media atau pihak lain, sudah harus dipastikan apakah teaternya aman, atau malnya jika bioskop berada di mal, sudah siap. "Kami masih menpelajari apakah akan melalukan promosi di bioskop-bioskop seperti selama ini atau melalui online. Kita lihat mana yang lebih menguntungkan," kata Aris.

Diakui oleh para pelaku perfilman, pandemi covid-19 yang datang tanpa bisa dicegah, telah merugikan bisnis yang dijalani, atau paling tidak banyak rencana bisnis yang sudah disusun dihentikan atau dijadwal ulang. Film "Jurig Salawe" yang promosinya ditangani oleh perusahaan Aris Muda, batal tayang di bioskop, padahal sudah peomosi satu bulan sebelum pandemi, padahal sudah menghabiskan 60 persen bujet promosi.

Marcella Zalianti juga batal membuka tiga cabang bari Indiskop karena pandemi. "Jadi pandemi ini sangat besar pengaruhnya bagi sektor yang kita geluti ini. Kita harus bekerjasama untuk bangkit," kata pengusaha yang dikenal juga sebagai artis dan Ketua Umum Parfi 56 ini.

Produksi film anak Qasidah Barzanzi karya Harry Dagoe terpaksa harus melalukan penyesuaian-penyesuaian karena eksekutif produsernya bangkrut akibat tertimpa pandemi corona. Balai Pustaka yang sudah menyiapkan 7 judul produksi film, batal menayangkan filmmya di bioskop tahun ini, dan terpaksa harus menunggu waktu yang baik tahun 2021.