JAKARTA---Ketua Induk UMKM Bali Anak Agung Ngurah Mahendra mengatakan produk-produk industri kreatif dari China mengalir deras ke Bali dan Lombok. Informasi itu disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Kreatif Penggerak Industri Pariwisata Bali yang diadakan Bank Mandiri Regional XI Bali Nusra bersama Kantor Perwakilan Bisnis Indonesia Bali di Denpasar, Rabu (21/3/2018).

Dia memaparkan dalam sehari, perusahaan kargo miliknya menangani hingga 10 ton produk ke Bali, sedangkan wilayah NTB dan NTT hingga 70 ton, yang 80% di antaranya merupakan produk dari China.

Di lain sisi, Bali yang digempur produk China tersebut hingga saat ini seperti belum siap menghadapi tantangan dari China. Hingga saat ini belum ada solusi yang tepat untuk menghadapi permasalahan pelaku industri kreatif.

Agung Mahendra pun mengatakan, Bali perlu memiliki lembaga riset yang tangguh. Dari lembaga riset itu nantinya permasalahan yang dihadapi industri kreatif yang ada di Bali dapat teratasi. Bahkan diyakini dapat bersaing dengan China.

Menanggapi masalah itu, pengamat ekonomi dari Universitas Udayana Sayu Sutrisna Dewi justru melihat permasalahan yang dialami pelaku industri kreatif di Bali adalah rendahnya pemahaman terhadap selera pasar.

Pelaku industri kreatif dinilai hanya membuat produk yang disukai tanpa tahu kebutuhan pasar. Sering kali juga, idealism yang begitu tinggi mengalahkan bisnis tersebut berkembang. “Fanatisme mereka (pelaku industri) sangat tinggi, selama ini melakukan kreasi untuk ngayah (sukarela) nanti bisnisnya diambil orang lain,” katanya.

Sementara itu Head of Industry and Regional Research Departement Office of Chief Economist Bank Mandiri Dendi Ramdani menekankan, industri kreatif sebenarnya memiliki kasta paling tinggi dalam aktivitas perekonomian.

Menurutnya, industri kreatif di daerah ini memiliki potensi sangat besar karena terlihat dari proporsinya yang mengalami pertumbuhan lumayan tinggi yakni di atas 5% dengan kontribusi paling besar adalah sektor kuliner.

Diakui olehnya bahwa pengembangan industri kreatif menghadapi berbagai tantangan utama yang harus dihadapi oleh setiap daerah. Tantangan itu seperti permasalahan SDM, pasokan bahan baku, daya saing, pembiayaan, akses pasar, masalah infrastruktur, teknologi hingga iklim usaha. Pihaknya ingin menangkap apa yang menjadi kunci permasalahan dan sekaligus bisa memberikan solusi untuk pengembangan ekonomi kreatif di Bali.