BREAKINGNEWS.CO.ID – Seorang pria yang berasal dari Sittard, Belanda, dituntut karena sudah menghina Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam serangkaian surat elektronik (surel) yang dia kirimkan ke Kedutaan Turki di Den Haag pada 2016 lalu.

Dalam sejumlah surelnya, pria berusia 64 tahun itu membandingkan Erdogan dengan Adolf Hitler. Laki-laki yang tidak diungkap identitasnya itu juga menautkan foto Erdogan mengenakan seragam Nazi dalam surelnya tersebut. "Erdogan, kamu merupakan kambing sialan dan keparat, pergi saja ke neraka." bunyi kutipan salah satu surel yang ia tulis.

Dalam surel yang lain, pria itu bahkan juga menautkan foto Erdogan bersama dengan Hitler lengkap dengan simbol swastika dan menuturkan bahwa "Erdogan sudah menyandera seluruh dunia dengan ide-ide jahatnya." "Lebih dari 70 tahun lalu, seorang diktator yang serupa juga membuat kesalahan yang sama persis. Saya menyesal orang-orang Turki harus dipimpin oleh idiot ini [Erdogan]. Anda [Erdogan] tidak layak mendapatkan yang lebih baik," bunyi surel lainnya seperti dikutip Netherlands Times, Kamis (16/8/2018).

Dikutip Hurriyet Daily News, jaksa publik Belanda mulai membuka penyelidikan kasus ini setelah kedutaan Turki di Den Haag mengajukan tuntutan resmi terhadap pria itu. Kantor kejaksaan dilaporkan akan mengumumkan kapan pria itu akan dipanggil ke persidangan pada Jumat (17/8) mendatang.

Di bawah konstitusi Belanda, melakukan penghinaan bisa dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Namun, serangkaian kejadian sebelumnya memperkirakan bahwa pria tersebut kemungkinan dijatuhi ancaman 8 bulan bui karena menghina seorang kepala negara sahabat. Parlemen Belanda baru-baru ini dikabarkan menerima proposal rancangan undang-undang untuk menganulir hukum penghinaan terhadap kepala negara asing tersebut.

Namun, lantaran RUU itu belum disetuji Senat maka hukum tersebut masih berlaku. Penuntutan pria tersebut mengundang sejumlah kritik dari publik Belanda, termasuk politikus ekstrem kanan Geert Wilders. Melalui akun Twitter-nya, mantan calon Perdana Menteri Belanda itu menyindir bahwa "Peradilan Belanda adalah untuk melayani Erdogan."