BREAKINGNEWS.CO.ID - Praktik busuk yang mencoreng asas sportivitas di sepak bola Indonesia bagaikan penyakit yang hinggap turun temurun. Dari masa ke masa, penyakit itu tak kunjung hilang meski ada saja segelintir orang yang ingin sepak bola nasional tumbuh dengan sehat. Seperti mengurai benang kusut, setiap helainya mengandung masalah dan kontroversi.

Salah satu aduan muncul dari Presiden Persijap Jepara (Liga 3), Esti Puji Lestari. Dari penuturannya, Persijap dikerjai habis-habisan saat masih menjalani kompetisi Liga 2 2017 oleh aksi tak terpuji wasit. Hal itu ia ceritakan pada forum yang digagas Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN), Rabu (9/1/). Diceritakannya, sebelum timnya memulai kompetisi, para pemain dan manajemen membuat perjanjian agar tidak terima suap.

''Dua laga awal, baik laga home dan away kami sempat meraih hasil bagus. Setelahnya, entah ada angin apa, kami bisa kalah secara beruntun. Secara materi pemain, kami lebih unggul dari tim lawan. Tetapi, tim lawan sudah main mata dengan wasit,'' ujar Esti.

Pada akhirnya, Esti mengajukan permohonan kepada Tisha. Dia meminta agar wasit yang ditugaskan dalam laga Persijap yang punya rekam jejak bagus dalam bertugas. "Saya minta ke Tisha (Sekjen PSSI) supaya tim saya dibiarkan main baik. Artinya tolonglah kasih saya rekomendasi. Selama ini PSSI bilang wasit bukan dari PSSI, tapi dari Komite Wasit. Padahal itu di bawah PSSI, jadi sama saja dong

Esti melanjutkan, saat ada spekulasi 'main dengan wasit', ia sempat tak memercayainya. Setelah kompetisi berjalan, muncul segelintir pihak yang enggan ia sebutkan namanya, mengajak Persijap kongkalikong dengan wasit yang memimpin pertandingan. Tujuannya, agar Persijap bisa mentas di Liga 1. Esti mengaku menolak praktik tersebut walau Persijap harus terdegradasi ke Liga 3.

''Puncaknya saat kami menghadapi Persibat Batang, kami sempat menang 2-1.Tetapi di menit-menit akhir kami dikerjai wasit dengan memberikan penalti aneh pada kami. Kami sempat protes sewajarnya kepada wasit, tapi malah kabur. Keesokan harinya, kami malah mendapat hukuman dari Komisi Disiplin dengan hukuman denda Rp 100 juta dan kami kalah WO,'' ucapnya.