BREAKINGNEWS.CO.ID – Ketua Senat Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, resmi dilantik menjadi presiden baru negara tersebut menggantikan Nursultan Nazarbayev yang mengundurkan diri setelah berkuasa selama 30 tahun pada Rabu (20/3/2019).

Tokayev akan mengisi jabatan presiden sampai periode Nazarbayev berakhir pada Maret 2020 mendatang. Dalam pernyataan perdananya sebagai presiden, Tokayev mengusulkan penggantian nama Ibu Kota Astana menjadi Nazarbayev. "Saya mengusulkan untuk menamakan Ibu Kota Astana menjadi Nazarbayev untuk menghormati presiden pertama kita," ucap Tokayev di depan parlemen.

Tokayev menganggap Nazarbayev "telah menunjukkan kebijaksanaan" dengan keputusannya mengundurkan diri. Dia juga memuji pendahulunya itu sebagai seorang visioner yang reformis. "Dunia telah menyaksikan peristiwa bersejarah. Hasil kemerdekaan Kazakhstan ada di depan mata," kata Tokayev.

Meskipun sudah tidak menjabat sebagai presiden, Nazarbayev akan tetap memegang sejumlah peran di dewan keamanan nasional dan partai politik. Tokayev menyebut "pendapat serta masukan dari Nazarbayev akan selalu menjadi istimewa, dapat dikatakan prioritas penting dalam pengambilan keputusan strategis."

Nazarbayev, yang juga hadir dalam pelantikan Tokayev, memberi tepuk tangan kepada penerusnya itu. Astana menggantikan Almaty sebagai Ibu Kota Kazakhstan pada 1997 lalu. Sejak saat itu, kota yang semua berada di Kazakhstan bagian utara terus berubah, menjadi modern dan futuristik. Dalam bahasa Kazakh, nama Astana secara harfiah berarti "utama" atau "ibu kota"

Spekulasi perubahan nama Astana memang sudah muncul sejak lama. Beberapa pihak memprediksi nama kota itu akan diganti menjadi nama pemimpin Kazakhstan. Dikenal dengan nama panggilan "Papa", Nazarbayev telah menjabat sebagai pemimpin Kazakhstan sejak 1989 lalu, ketika negara itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet.

Anggota parlemen Kazakhstan memberi gelar Nazarbayev sebagai "Pemimpin Bangsa". Ia merupakan pemimpin era Uni Soviet terakhir yang masih berkuasa hingga saat ini. Walaupun termasuk generasi tua, Nazarbayev tetap dianggap sebagai pemimpin populer di negaranya, yang memiliki penduduk sebanyak 18 juta orang. Dia melakukan banyak reformasi hingga menjadi negara dengan sumber energi besar. Meski begitu, ia dikenal tidak menoleransi oposisi.