JAKARTA - Secara resmi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah mengusulkan hukuman mati bagi para pengedar narkoba pada Senin (19/3/2018) waktu setempat, di negara bagian New Hamsphire. Trump beralasan pemerintah federal 'membuang-buang waktu' apabila tidak bersedia menjatuhkan hukuman mati pada pelaku-pelaku itu.

Pidato tersebut terlihat menyeimbangkan pernyataan Trump sebelumnya yang juga akan memerangi kejahatan narkotika, akan tetapi tidak banyak menaikkan anggaran negara bagian untuk mendanai kampanye dan program kesehatan melawan narkotika. Namun, usulan hukuman mati ini secara otomatis menarik kecaman yang sebelumnya dilayangkan.

"Jika kita tidak menunjukkan sikap yang keras pada pengedar narkotika, kita membuang-buang waktu. Dan sikap tersebut, termasuk hukuman mati," kata Trump di Menchester, News Hampire.

Usulan hukuman mati tersebut, termasuk pada opiod, salah satu jenis narkoba yang saat ini sedang hits di negara tersebut. Opioid atau opium adalah jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengontrol, mengendalikan, atau menghilangkan rasa nyeri serta mengakibatkan kecanduan, sehingga masuk dalam golongan narkotika.

Trump menyebut, selama ini para pengedar narkotika membunuh ribuan orang, akan tetapi tidak dihukum dengan tindakan pembunuhan yang dilakukannya.

"Ini adalah tentang memenangkan masalah yang sangat-sangat sulit dan jika kami tidak menjadi sangat keras pada pengedar ini, itu (memenangkan masalah) tidak akan terjadi," ungkap dia.

Jaksa Agung Jeff Session, anggota kabinet Trump yang cukup putus asa dengan usulan tersebut, menuturkan kalau akan mencari celah untuk menyesuaikan hukuman mati itu.

Jesselyn McCurdy, Wakil Direktur Kantor Washington Civil Liberties Union Amerika Serikat mengatakan usulan Trump tidak masuk akal.

"Perdagangan narkotika bukanlah pelanggaran yang bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan hukuman mati," kata McCurdy.

Ia merujuk pada preseden Mahkamah Agung yang memberikan batasan dalam menggunakan hukuman ketika orang yang dihukum tidak melakukan pembunuhan.

Seiring dengan banyak pihak yang meragukan, Trump mengakui bahwa beberapa negara di Amerika Serikat mungkin tak siap dengan hukuman mati. "Mungkin negara kita belum seluruhnya siap, saya bisa memahaminya," terang dia.

Adapun Trump mengganmbarkan kampanye yang dilakukannya sebagai usaha skala besar untuk mendorong orang-orang tak menggunakan narkotika.

"Cara terbaik untuk melawan krisis narkotika adalah dengan menjaga orang-orang tetap pada tempatnya. Ini (iklan) adalah sesuatu yang saya minati, menghabiskan banyak uang untuk iklan hebat yang menunjukkan betapa buruknya (narkotika) itu," terangnya.