BREAKINGNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo melontarkan sindiran kepada pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikarenakan diam terkait tindakan Cina yang menahan warga Muslim Uighur secara besar-besaran. Nasib minoritas Muslim berbahasa Turki di Xinjiang itu telah mendapat sorotan masyarakat internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Pompeo mempertanyakan klaim pemimpin teokrasi Teheran yang selama ini mencitrakan dirinya sebagai pemimpin dunia Islam. "@khamenei_ir menganggap dirinya sebagai pemimpin dunia Islam, akan tetapi rezimnya benar-benar diam ketika Cina—pembeli utama minyak Iran—telah menganiaya serta menahan ratusan ribu warga Muslim-nya," tulis Pompeo di Twitter lewat akun resminya, @SecPompeo, Jumat (14/9/2018).

Tweet diplomat utama Washington itu miliki potensi memicu kecemasan di pihak Beijing yang sedang disorot masyarakat internasional atas perlakuan mereka terhadap minoritas Muslim Uighur. Menurut laporan PBB, lebih dari 1 juta warga Uighur ditahan di kamp-kamp rahasia untuk mendapatkan pendidikan ulang. Komentar Pompeo juga akan semakin memanaskan perseteruan antara Washington serta Beijing yang sedang terlibat perang dagang.

Bulan lalu, sekelompok legislator Washington meminta Pompeo serta Menteri Keuangan Steven Mnuchin untuk membatasi perjalanan dan membekukan aset pejabat Partai Komunis atas peran mereka dalam penganiayaan terhadap warga Uighur. Sementara itu, Cina sudah memperingatkan AS untuk tidak ikut campur dalam urusan internalnya. Pemerintah Presiden Xi Jinping secara resmi menyangkal masalah di Xinjiang, wilayah yang menjadi rumah bagi sekitar 10 juta warga Uighur.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah Cina menyebut bahwa laporan tentang penahanan masal satu juta Muslim Uighur di Xinjiang "sepenuhnya tidak benar," namun mengakui telah mengirim sejumlah orang ke "pusat-pusat reedukasi". Warga Uighur menikmati hak-hak yang setara, kata pemerintah Cina, namun "mereka yang tertipu oleh ekstremisme agama ... harus dibantu dengan permukiman kembali dan pendidikan kembali", sebagaimana dikatakan seorang pejabat.

Pengakuan Beijing yang langka itu disampaikan dalam sebuah pertemuan PBB di Jenewa untuk menanggapi kecemasan yang diungkap di sana bahwa kawasan Xinjiang "telah menyerupai kamp tahanan besar-besaran". Sejak beberapa tahun terakhir, di Xinjiang kerap meletus kekerasan yang ditumpas dengan tindakan keras pemerintah. Cina menuduh kaum militan Islam dan kalangan separatis sebagai pihak yang berada di balik berbagai kekerasan itu.