BREAKINGNEWS.CO.ID - Polres Metro Jakarta Barat berhasil mengungkap praktek jual-beli ilegal satwa liar yang dilindungi. Para pelaku menjual satwa liar yang dilakukan melalui media sosial grup WhatsApp dan Facebook. Transaksi pengiriman kepada pembeli dilakukan dengan menggunakan jasa ojek online dan bus antar kota sebagai kurir. "Kami berhasil menangkap 5 orang pelaku. Jadi kami menangkapnya pada saat pelaku ini menjual satwa-satwa ini menggunakan online, penjualan satwa ini menggunakan media sosial online," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edi Sitepu di Polres Jakarta Barat, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (31/7/2018).

Dari pengungkapan ini polisi menciduk lma tersangka yakni AS (15), CM (18), ES (20), SR (18) dan SS (25). Kelimanya ditangkap di tiga lokasi berbeda yakni di Jalan Raya Tomang; Jalan Kapuk Raya, Cengkareng; dan Jalan S Parman, Slipi, Jakarta Barat.

Edi menjelaskan transaksi jual-beli satwa liar dilakukan melalui grup WhatsApp dan Facebook yang tercatat sebagai member dari grup tersebut yang mempromosikan penjualan hewan dilindungi tersebut. "Lewat akun media sosial dan mengirimnya kepada pembeli dengan menggunakan jasa ojek online dan bus antar kota sebagai kurir," bebernya. 

Untuk melancarkan aksinya, para pelaku membungkus satwa dengan kemasan yang tidak mencurigakan seperti kain atau kardus untuk menghindari kecurigaan petugas saat pengiriman. Adapun pembayarannya dilakukan dengan rekening bersama. Hal ini dilakukan untuk menghindari interaksi pembeli dan penjual. "Sedang kita teliti, sedang kita dalami rekening penampungan ini," ujarnya. 

Disebutkan, komunitas tersebut memiliki kode etik yang cukup ketat. Salah satunya, member tidak boleh menanyakan lokasi si penjual atau lokasi satwa yang akan dijual. "Itu ada kode etiknya, yang menanyakan itu akan langsung dikeluarkan dari grup," ucapnya.

Dalam pemasarannya grup ini memposting sejumlah hewan liar yang diperdagangkan, seperti burung elang brontok, burung elang alap-alap kawah, burung elang laut, ekor buaya muara, kanguru pohon dan lain-lain. Hewan-hewan tersebut dijual dengan harga yang bervariasi.

Harganya dijual antara Rp400 ribu hingga Rp2 juta per ekor. Hewan-hewan langka ini kebanyakan berasal dari alam liar yang ditangkap oleh para pengepul di daerah yang masih memiliki wilayah hutan konservasi.

Kepala Seksi Wilayah 2 BKSDA Jakarta Bambang Yudi menambahkan, pemeliharaan atau konservasi hewan liar dilindungi UU No 5 Tahun 1999 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Masyarakat yang ingin memelihara atau melakukan konservasi satwa diperbolehkan, dengan syarat-syarat tertentu. "Syarat yang pertama adalah memang si masyarakat memiliki kemampuan untuk memelihara, memiliki sarana dan prasarana. Misalnya buaya, dia harus memiliki kolam atau tempat penangkaran itu sesuai dengan kriteria atau kebutuhan yang kita tetapkan. Itu salah satu prasyarat izin yang akan diberikan," tegasnya.

Untuk proses pemulihan, hewan-hewan yang berhasil diamankan akan dibawa ke pusat penyelamatan satwa di Tegal Alur untuk dikarantina sebelum dilepas liarkan ke alam. "Langsung dibawa ke alam, ke habitatnya. Seperti elang kita punya pusat rehabilitasi di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu," ujarnya.