BREAKINGNEWS.CO.ID - Polisi tengah menelisik dan menunggu hasil analisa Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait aliran dana yang terdapat pada 75 barang bukti yang disita dari tersangka kasus perusakan barang bukti pengaturan skor, Pelaksana Ketua Umum Persatuan Sepakbola Indonesia, Joko Driyono.

"Masih jadi kajian penyidik berkaitan dengan kasus tersebut (perusakan barang bukti)," ucap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Kamis (21/2/2019).

Argo mengatakan tak menutup kemungkinan Jokdri terjerat kasus lain. Pasalnya, Jokdri diduga terlibat dalam kasus pengaturan skor di liga-liga Indonesia.

Argi beralasan perlunya PPATK dilibatkan, apalagi ditemukan uang ratusan juta serta beberapa dokumen terkait aliran dana yang belum diketahui aliran tersebut. Dimana hal itu ditemukan dari penggeledahan apartemen dan ruang kerja Jokdri.

"Semua kemungkinan bisa terjadi, apakah bisa muncul laporan baru itu semua bisa terjadi. Misal dalam penyelidikan ada pidana lain bisa kita buatkan laporan polisi," katanya.

Dalam kasus ini, Jokdri ditetapkan sebagai tersangka karena merusak barang bukti terkait pengaturan skor. Dia ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis 14 Februari 2019 lalu.

Polisi menyebut Jokdri sebagai aktor intelektual yang memerintahkan tiga pesuruhnya, yaitu Muhammad MM alias Dani, Musmuliadi alias Mus dan Abdul Gofar melakukan perusakan barang bukti di kantor Komisi Disiplin PSSI yang sempat digeledah Satgas Anti Mafia Sepakbola beberapa waktu lalu. Dia memerintahkan ketiganya melakukan perusakan garis polisi atau masuk tanpa izin ke tempat yang telah disegel polisi, kemudian memerintahkan melakukan perusakan barang bukti dan pencurian mengambil laptop terkait kasus dugaan pengaturan skor.

Pasca ditetapkan jadi tersangka, polisi melakukan penggeledahan di apartemen Jokdri di Apartemen Taman Rasuna, tower 9 lantai 18 unit 0918 C, Jalan Taman Rasuna Selatan, Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. 

Polisi juga menggeledah ruang kerja Jokdri di Kantor PSSI, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis, 14 Februari 2019 kemarin. Kemudian, polisi pun melakukan pencekalan terhadap Jokdri. Polisi sudah berkoordinasi dengan pihak Imigrasi pada 15 Februari 2019 untuk mencegah Jokdri keluar negeri untuk 20 hari kedepan.