BREAKINGNEWS.CO.ID - Jalan Layang Non Tol (JLNT) yang menghubungkan Tanah Abang – Kampung Melayu dan terlarang dilalui oleh kendaraan roda dua atau motor tak selalu steril, dari kendaraan jenis ini. Karena hampir  setiap hari ada saja pengendara motor yang berlalu lalang di jalan layang non tol terpanjang di wilayah Ibu Kota itu. Plang simbol larangan bermotor yang terpampang, tak diindahkan oleh para pemotor.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusuf menegaskan kembali kalau para pengendara roda dua yang tetap nekat melewati Jalan Layang Non Tol (JLNT) Casablanca akan ditindak tegas pihaknya. Soalnya, meski telah dipasang rambu larangan dan anggotanya berjaga di lokasi masih saja ada pengendara roda dua yang membandel. Dirlantas sempat meninjau langsung ke lokasi terkait masih banyaknya pengendara roda dua membandel itu.

"Tidak ada toleransi lagi. Saya tegaskan diberi tindakan yang tegas untuk pelanggar,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu 11 Juli 2018.

Yusuf menjelaskan tidak akan mrmberikan toleransi bagi pengendara roda dua kalau di JLNT Casablanca. Sebab, berbahaya jika sepeds motor lewat sana karena angin yang begitu kencang.

Dirlantas berharap para pengendara roda dua bisa sadar diri. Sebab, apa yang mereka lakukan bukan hanya akan membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain. "Pemotor cenderung melintas karena tidak dijaga oleh petugas. Kalau kayak begitu kan membahayakan diri sendiri. Ini demi keselamatan untuk para pengendara motor. Jangan karena tidak ada polisi, terobos JLNT," kata dia lagi.

Pemotor 490 Tertilang 

Di tempat terpisah, Kasubdit Pembinaan dan Penegakkan Hukum (Bin Gakkum) Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto menyatakan, tiap hari, petugas disiagakan di JLNT untuk menindak pemotor yang nakal. Dia mengatakan, data pemotor yang melanggar pada pekan lalu, 30 Mei – 7 Juli, ada 490 pelanggar.

Budiyanto merinci jumlah barang bukti yang disita oleh petugas. Yakni, 336 SIM dan 154 STNK. Aturan berupa UU Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009 yang tertulis serta denda yang memekikkan kantong, sepertinya tidak cukup membuat pelanggar kapok. Mereka tetap saja melintasi JLNT yang dikerjakan pada 2010 lalu itu.

Para pelanggar bisa dijerat dengan pasal 287 ayat 1 dan 2. Dari pasal tersebut diterangkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan perintah, yang diisyaratkan dengan rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas dapat dipidana dengan kurungan. Yakni paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu. Pemotor yang melintas di JLNT Kuningan jelas salah. Di JLNT telah terpasang rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat. Yaitu lambang motor dicoret.